STUDI STRUKTUR PERMUDAAN ALAM SAWO KECIK (Manilkara kauki)

DI BLOK PARANG IRENG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI

(1997)

 

Oleh : Willian Foresta Vilosantara*

Permudaan alam merupakan salah satu permudaan yang dapat dipakai dalam peremajaan hutan disamping permudaan buatan. Ditinjau dari segi ekonomi, maka permudaan alam akan lebih menguntungkan karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pengumpulan biji, pengolahan tanah, pembuatan bedengan, pemeliharaan persemaian dan lain-lain.

Di Indonesia perkembangan hutan sawo kecik lambat laun mengalami kemunduran mendekati titik-titik rawan, sehingga sawo kecik dan ekosistemnya sudah dinyatakan langka. Kemunduran perkembangan hutan sawo kecik ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor alami maupun aktivitas manusia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur permudaan alam sawo kecik (M. kauki Dubard) di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.

Penelitian dilaksanakan di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi. Waktu penelitian mulai bulan Juli sampai dengan September 1996.

Alat yang digunakan dalam penelitian yaitu kompas, peta kerja skala 1 : 50.000, rol meter, hagameter, tali rafia, tambang plastik, parang, kamera, dan alat tulis menulis.

Obyek yang dipergunakan selama penelitian adalah kawasan hutan alam sawo kecik seluas 82,45 ha.

Metode yang dipergunakan dalam penelitian adalah observasi/survei. Untuk mengetahui struktur permudaan alam digunakan petak contoh dengan sistem jalur (IS 10%) sehingga didapatkan 82 petak contoh dengan ukuran 2 x 2 m untuk tingkat semai, ukuran 5 x 5 m untuk tingkat sapihan dan ukuran 10 x 10 m untuk tingkat tiang. Pola penyebaran jenis dianalisis dengan persamaan Distribusi Poisson sebagai berikut;

e. µN

P(X) =

X!

Keterangan:

µ   = jumlah rata-rata individu per plot

e    = konstanta, logaritma natural (2, 71828)

X! = bilangan faktorial

N  = jumlah populasi

Parameter yang diamati adalah struktur horizontal (penyebaran masing-masing fase pertumbuhan semai, sapihan, dan tiang) dan struktur vertikal (strata masing-masing fase pertumbuhan semai, sapihan, dan tiang).

Dari hasil analisis vegetasi sebanyak 82 petak percobaan dengan ukuran 2 x 2 m untuk tumbuhan sawo kecik tingkat semai (tinggi 0-1,5 m) didapatkan sebanyak 312 anakan/semai.

Berdasarkan hasil perhitungan menurut distribusi Poisson pola penyebaran sawo kecik untuk tingkat semai termasuk dalam distribusi kelompok.

Dari hasil analisis vegetasi sebanyak 82 petak percobaan dengan ukuran 5 x 5 m untuk tumbuhan sawo kecik tingkat sapihan (tinggi 5-10 m ) didapatkan sebanyak 114 sapihan, sedangkan pola penyebaran tingkat sapihan termasuk dalam distribusi acak.

Dari hasil analisis vegetasi sebanyak 82 petak percobaan dengan ukuran 10 x 10 m untuk tumbuhan sawo kecik tingkat tiang (tinggi 10-20 m) didapatkan sebanyak 96 individu dan pola penyebarannya termasuk dalam distribusi acak.

Setelah mengadakan analisis data yang diperoleh di lapangan dapat disimpulkan bahwa stratum untuk tingkat semai sawo kecik termasuk dalam kelompok stratum E hal ini berdasarkan dari hasil perhitungan bahwa rata-rata tinggi tingkat semai adalah 1,13 m.

Stratum untuk tingkat sapihan dengan rata-rata tinggi 7,1 m termasuk dalam stratum D. Stratum untuk tingkat tiang dengan rata-rata tinggi 13,9 m termasuk stratum C.



Mahasiswa Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Malang


Kembali