REHABILITASI DAN PEMELIHARAAN TANAMAN MANGROVE JENIS BAKAU HITAM ( Rhizopora mucronata) DI TELUK PANGPANG, TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI – JAWA TIMUR

(2005)

Oleh : Rina Sulistyorini*

Peran Penting ekosistem Mangrove dalam kehidupan ditunjang oleh faktor ekologis dan ekonomis yang bermanfaat dan memberikan pangaruh penting terhadap kehidupan, baik di lingkungan perairan dan masyarakat pesisir. Sebagai akibat munculnya berbagai masalah seperti menurunnya kualitas lingkungan pantai, sedimentasi, abrasi, serta intrusi air laut, angin dan gelombang, banjir dan deboisasi. Hal ini disebabkan dari kerusakan dan menyusutnya hutan bakau (mangrove). Rehabilitasi hutan mangrove berbasis mitigasi bencana alam di Kabupaten Banyuwangi, khususnya di wilayah Teluk Pangpang meliputi kegiatan penanaman, pemeliharaan dan pengawasan dengan melibatkan pihak-pihak terkait dan masyarakat.

Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan ini antara lain untuk mengetahui teknik rehabilitasi mangrove, mencakup penanaman, jenis mangrove yang ditanam, dan pemeliharaan. PKL ini dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2005 sampai dengan 24 September 2005 bertempat di Teluk Pangpang, Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi – Jawa Timur.

Wilayah Teluk Panpang (Muncar dan Tegaldlimo) merupakan daerah yang direhabilitasi karena merupakan wilayah kawasan mangrove yang telah rusak akibat badai fay 2004. Luas penanaman 160 Ha dengan benih 800.000 yang bersal dari Segoro Anak, Taman Nasional Alas Purwo Banyuwani – Jawa Timur.

Jenis Bakau Hitam ( Rhizopora Mucronata) dipilih karena kesesuaian dengan lingkungan dan persediaan di alam yang melimpah. Benih mangrove disediakan oleh pihak Perhutani dan Balai Taman Nasional Alas Purwo yang bekerja sama dengan LSM “Putra Bahari”, sedangkan peralatan khususnya untuk alat berat disediakan oleh pihak dari Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi.

Penanaman benih langsung ditancapkan sedalam sepertiga bagian dari propagul dan tali pada ajir bambu dan ditali dengan rafia. Alat yang digunakan untuk pengolahan tanah adalah cangkul dan parang. Pemeliharaan meliputi penggantian tanaman (sulam) pada mangrove yang telah rusak atau mati dengan benih yang baru. Sedangkan pengawasan dilakukan oleh berbagai pihak yang terkait dan masyarakat pengawasan. Penanaman yang dilaksanakan pada rehabilitasi dan pemeliharaan tanaman mangrove di Teluk Pangpang tingkat keberhasilan 60% dari total penanaman bahkan lebih yang sudah mulai terlihat ketika benih yang ditanan berumur 15 hari sampai 1 bulan.

 

Kata Kunci : rehabilitasi, pemeliharaan, mangrove, Rhizophora mucronata



Mahasiswa Program Ekstensi Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan  Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Dipenogoro Semarang


Kembali

Switch to our mobile site