KERAGAMAN TUMBUHAN PAKU  (PTERIDOPHYTA) BERPOTENSI OBAT DI RESORT ROWOBENDO TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

 (2008)

 

Oleh : Martha Lumungga  Hutabarat*

Penggunaan tumbuhan obat dalam tahun terakhir ini cenderung meningkat sejalan dengan berkembangnya industri jamu atau obat tradisional, farmasi dan kosmetik. Peluang obat-obat alami dengan sistem pelayanan kesehatan masyarakat cukup besar, oleh sebab itu pengetahuan tentang keragaman jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat perlu di tingkatkan bukan hanya terbatas pada tumbuhan budidaya melainkan juga pada tumbuhan liar. Salah satu tumbuhan liar yang memiliki potensi obat adalah tumbuhan paku. Tumbuhan paku banyak ditemukan di lantai hutan hujan tropis. Salah satu kawasan yang sesuai untuk tumbuhnya tumbuhan tersebut adalah Resort Rowobendo Taman Nasional Alas Purwo (TNAP). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keragaman tumbuhan paku  (pteridophyta) berpotensi obat yang ada di Resort Rowobendo TNAP.

Penelitian ini dilakukan di dua tempat. Pengambilan sampel tumbuhan paku dilokasi penelitian dengan menggunakan metode jelajah dan partisipatori. Pembuatan herbarium dilakukan di Laboratorium Botani dan Kultur Jaringan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember dengan menggunakan fiksatif alkohol 70%.

Hasil penelitian menemukan 14 spesies yang tergolong ke dalam 10 genus dari delapan famili tumbuhan paku berpotensi obat. Tumbuhan tersebut digunakan untuk mengobati berbagai penyakit diantaranya penyakit kulit, penyakit dalam, dan kanker. Penggunaan tumbuhan paku untuk pengobatan luar seperti penyalit kulit umumnya dengan cara menumbuk seluruh bagian tumbuhan kemudian dioleskan pada bagian yang sakit, sedangkan untuk penyakit dalam dengan cara direbus kemudian diminum.

Spesies-spesies tumbuhan paku yang berpotensi obat tersebut adalah Acrostichum aerum, Pteris biaurita dan Pteris ensiformis yang tergolong ke dalam famili Pteridaceae. Adiantum lunutalum, Adiantum terenum, Adiantum caudatum dan Hemionitis arifolia yang tergolong ke dalam famili Adiantaceae. Lygodium circinatum dan Lygodium microphyllum yang tergolong ke dalam famili Schizaeaceae. Asplenium nidus yang tergolong ke dalam famili Aspleniaceae. Diplazium esculentum yang tergolong ke dalam famili Woodsiaceae. Drynaria quersifolia yang tergolong ke dalam famili Polypodiaceae. Nephrolepis biserrata yang tergolong ke dalam famili Davaliaceae dan Stenochlanea palustris yang tergolong ke dalam famili Blechnaceae.

 

  1. Jenis dan Potensi Tumbuhan Paku Berpotensi Obat di Resort Rowobendo TNAP dan Cara Penggunaannya

 

No.

Spesies

Potensi

Cara Penggunaan

1.

Acrostichum aerum Obat tapal luka atau bisul (LIPI,1980), sembelit, sakit tenggorokan, sesak nafas, luka, menjaga kesehatan kehamilan dan elephantiasis (Baltrushes, 2006) Rhizom dan daun steril yang dihaluskan kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit (LIPI, 1980)

2.

Adiantum lunutalum Kontrasepsi (Baltrushes, 2006), disentri, kusta dan luka gigitan hewan berbisa (Reddy et al., 2006) Keterangan belum ditemukan

3.

Adiantum terenum Anti bakteri, obat flu, pernafasan, nyeri haid, liver, demam, bersih darah dan sebagai kontrasepsi (Tylor, 2005) Keterangan belum ditemukan

4.

Adiantum caudatum Obat luka bakar, sebagai ekspektoran, luka akibat teriris benda tajam (Reddy et al., 2006), dan obat batuk (LIPI, 1980) Akar dan daunnya direbus kemudian diminum (LIPI, 1980)

5.

Hemionitis arifolia Obat luka akibat teriris benda tajam dan luka gigitan hewan berbisa (Reddy et al., 2006) Keterangan belum ditemukan

6.

Asplenium nidus Obat penyubur rambut (Boon, 1999), demam, sakit kepala (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000), kontrasepsi dan luka gigitan atau sengatan hewan berbisa (Baltrushes, 2006) Daunnya ditumbuk dan dicampur dengan parutan kelapa kemudian dioleskan pada rambut (Boon, 1999)

7.

Diplazium esculentum Demam, ramuan obat setelah bersalin (LIPI, 1980), obat kuat (Baltrushes, 2006), melancarkan peredaran darah ke otak (Budi, 2007) dan untuk menghilangkan bau badan (Heyne, 1987) Daunnya digunakan untuk demam dan ramuan obat setelah bersalin (LIPI, 1980), daun muda digunakan sebagai sayur (Budi, 2007), daun yang sudah tua dioleskan pada ketiak (Heyne, 1987)

8.

Drynaria quersifolia Obat bengkak, demam (LIPI, 1980), dan kanker (Setyowati, 1997) Daunnya ditumbuk dan diambil airnya kemudian diminum (LIPI, 1980)

9.

Nephrolepis biserrata Obat bengkak, bisul (Baltrushes, 2006), dan luka (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000) Keterangan belum ditemukan

10.

Pteris biaurita Obat demam (Setyowati, 1997) Keterangan belum ditemukan

11.

Pteris ensiformis Obat penuru panas, anti radang, peluruh air seni, pencuci darah (Departemen Kesehatan, Tanpa Tahun), pegal linu (Gunung, 2007), obat luka-luka, bengkak (Singh et al., 2001), dan sebagai obt anti kanker (Wuryanti, 2006) Daun direbus kemudian airnya diminum (Departemen Kesehatan, Tanpa Tahun), seluruh bagian tumbuhan ditumbuk halus bersama dengan jahe kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang sakit (Gunung, 2007)

12.

Stenochlanea palustris Obat diare (Boon, 1999) Daun direbus kemudian dimakan (Boon, 1999)

13.

Lygodium circinatum Obat penawar racun laba-laba, keseleo, luka dipatil lele (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000; Heyne, 1987), luka gigitan ular, lipan, sengatan hewan air (Boon, 1999), obat setelah bersalin (LIPI, 1980) Daunnya ditumbuk kemudian diambil airnya dan dioleskan pada bagian yang sakit (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000), akar ditumbuk kemudian dioleskan pada bagian yang sakit, daun dicampur dengan curcuma kemudian ditumbuk ditempelkan pada bagian yang sakit, dan daun diremas-remas kemudian ditempelkan pada luka yang dipatil ikan lele (Heyne, 1987), rhizom yang mengandung getah digunakan untuk mengobati luka-luka sengatan hewan melata (Boon, 1999), dan daunnya sebagai obat setelah bersalin (LIPI, 1980)

14.

Lygodium microphyllum Obat sariawan, disentri, keracunan makanan (Boon, 1999) Daun dikunyah-kunyah  dapat digunakan untuk mengobati sariawan, sedangkan air rebusan daunnya dapat digubakan untuk disentri dan keracunan makanan (Boon, 1999)

 


Kembali