KERAGAMAN STRUKTUR SPORA TUMBUHAN PAKU  ANGGOTA SUKU POLYPODIACEAE YANG BERPOTENSI OBAT DI RESORT ROWOBENDO TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

(2008)

 

Oleh : Retno Wulandari*

            Tumbuhan paku tersebar di seluruh dunia kecuali di daerah bersalju dan daerah kering (gurun) (Wikipedia, 2007). Tumbuhan paku banyak ditemukan di tempat yang lembab dan berair. Jenis tumbuhan paku di dunia diperkirakan 8.000 sampai 10.000 jenis yang meliputi 300 suku (Bower, 1935; Copeland, 1947 dalam Foster dan Grifford, 1959; Khioriyah, 2004). Salah satu suku tumbuhan paku adalah Polypodiaceae. Ciri-ciri Polypodiaceae antara lain umumnya epifit, daun diamorfisme, bentuk sorus bervariasi, spora didominasi monolete, dan lain-lain (Andrews, 1990).

Alat perkembangbiakan generatif tumbuhan paku adalah spora. Bentuk spora tumbuhan paku ada dua macam yaitu trilete dan monolete. Spora trilete adalah spora yang bentuknya segitiga yang pada bagian axisnya terdapat tanda Y di bagian tengah spora. Sedangkan spora monolete adalah spora yang bentuknya membulat seperti kacang dengan garis tunggal yang terletak di axis (Gale, 2006). Anggota Polypodiaceae umunya mempunyai bentuk spora monolete (Hovebkamp et al., 1998). Sampai saat ini keragaman struktur spora tumbuhan paku khususnya suku Polypodiaceae di Resort Rowobendo TNAP belum pernah diteliti. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman struktur spora tumbuhan paku anggota suku Polypodiaceae yang berpotensi obat di Resort Rowobendo TNAP.

Penelitian dilakukan di empat lokasi penelitian yaitu lokasi pengambilan sampel di Resort Rowobendo TNAP seluas 210 ha menggunakan dua metode yaitu metode jelajah dan partisipatori. Identifikasi spesimen dan pembuatan herbarium dilakukan di Laboratorium Botani dan Kultur Jaringan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember. Pembuatan preparat dilakukan di Laboratorium Botani dan Kultur Jaringan serta laboratorium Zoologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember, sedangkan pemotretan sterktur spora dilakukan di Program Studi Biologi, Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP Universitas Jember. Pembuatan preparat spora dilakukan secara utuh tanpa pengirisan (whole mount) dengan melalui beberapa tahap yaitu acetolisis, cleaning (pembersihan), staining (pewarnaan), dan mounting (penempelan).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 12 jenis tumbuhan paku anggota suku Polypodiaceae. Tujuh diantaranya berpotensi sebagai tumbuhan obat dan lima jenis diantaranya belum diketahui potensi obatnya. Tumbuhan paku anggota suku Polypodiaceae yang menghasilkan spora berjumlah enam jenis tetapi hanya tiga jenis yang diketahui potensi obatnya. Tumbuhan paku anggota suku Polypodiaceae yang sudah mengasilkan spora dan berpotensi sebagai tumbuhan obat di Resort Rowobendo TNAP berjumlah tiga jenis. Ketiga jenis tumbuhan paku tersebut adalah Acrostichum aureum L., Asplenium nidus L., dan Diplazium esculentum (Retz) Sw. Jenis Acrostichum aureum L. mempunyai bentuk spora trilete, ikiran sebesar (± 56 µm), sedangkan Asplenium nidus L., dan Diplazium esculentum (Retz) Sw mempunyai bentuk spora monolete dengan ukuran sedang. Perbedan antara spora Asplenium nidus L., dan Diplazium esculentum (Retz) Sw adalah ukuran dan permukaan spora. Ukuran spora Diplazium esculentum (Retz) Sw lebih besar (± 50 µm) serta permukaan skabrat, sedangkan Asplenium nidus L. berukuran (± 48 µm) serta permukaan striat.

Beberapa tumbuhan paku dapat bermanfaat sebagai obat, diantaranya adalah Acrostichum aureum L. digunakan sebagai obat tpal kuda aau bisul, sembelit, sakit teggorokan, sesak nafas, luka, elephantiasis serta menjaga kesehatan kehamilan. Asplenium nidus L. digunakan sebagai obat penyubur rambut dan obat gigitan serangga. Diplazium esculentum (Retz) Sw. digunakan untuk melancarkan peredaran darah ke otak, meningkatkan daya ingat, mengobati demam, ramuan setelah bersalin dan menghilangkan bau badan.

Tabel 3. Jenis-jenis Tumbuhan Paku suku Polypodiaceae Berpotensi Obat di Resort Rowobendo TNAP dan Cara Penggunaannya

No.

Spesies

Potensi

Cara Penggunaan

1.

Acrostichum aerum L. Obat tapal luka atau bisul (LIPI,1980), sembelit, sakit tenggorokan, sesak nafas, luka, menjaga kesehatan kehamilan dan elephantiasis (Baltrushes, 2006) Rhizom dan daun steril yang dihaluskan kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit (LIPI, 1980)

2

Asplenium nidus L. Obat penyubur rambut (Boon, 1999), demam, sakit kepala (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 2000), kontrasepsi dan luka gigitan atau sengatan hewan berbisa (Baltrushes, 2006) Daunnya ditumbuk dan dicampur dengan parutan kelapa kemudian dioleskan pada rambut (Boon, 1999)

3.

Diplazium esculentum Demam, ramuan obat setelah bersalin (LIPI, 1980), obat kuat (Baltrushes, 2006), melancarkan peredaran darah ke otak (Budi, 2007) dan untuk menghilangkan bau badan (Heyne, 1987) Daunnya digunakan untuk demam dan ramuan obat setelah bersalin (LIPI, 1980), daun muda digunakan sebagai sayur (Budi, 2007), daun yang sudah tua dioleskan pada ketiak (Heyne, 1987)

 

4.

Drynaria quersifolia Obat bengkak, demam (LIPI, 1980), dan kanker (Setyowati, 1997) Daunnya ditumbuk dan diambil airnya kemudian diminum (LIPI, 1980)

5

Pteris biaurita Obat demam (Setyowati, 1997) Keterangan belum ditemukan

6

Stenochlanea palustris Obat diare (Boon, 1999) Daun direbus kemudian dimakan (Boon, 1999)

7

Pteris ensiformis Obat penuru panas, anti radang, peluruh air seni, pencuci darah (Departemen Kesehatan, Tanpa Tahun), pegal linu (Gunung, 2007), obat luka-luka, bengkak (Singh et al., 2001), dan sebagai obt anti kanker (Wuryanti, 2006) Daun direbus kemudian airnya diminum (Departemen Kesehatan, Tanpa Tahun), seluruh bagian tumbuhan ditumbuk halus bersama dengan jahe kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang sakit (Gunung, 2007)

 

 


Kembali