PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KONSERVASI PENYU LAUT

DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

(Studi Kasus di Desa Kalipait dan Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur)

(2006)

 

Oleh : Sugeng Prayitno*

Indonesia sebagai Negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, dengan kekayaan karang, padang lamun, dan pantai berpasir ini, menawarkan serta memberikan tempat sebagai habitat penyu. Hal ini terlihat dari kehadiran 6 dari 7 jenis penyu laut yang ada di dunia. Dari 6 jenis tersebut, 4 diantaranya telah diketahui berbiak di Indonesia yaitu penyu blimbing, penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik, sementara jenis lainnya, penyu tempayan mencari makan di perairan Indonesia dan diduga berbiak juga disini (Salim, 1984; Salim dan Halim, 1984). Jenis yang keenam yaitu penyu pipih diketahui hanya berbiak di Australia dan telah teramati mencari makan di perairan Indonesia (Kicher, 1996 dalam Troeng, 1997).

Penyu sebagai salah satu sumberdaya hayati merupakan sumber protein yang baik, bernilai ekonomi yang cukup potensial. Oleh karena itu penyu banyak diburu terutama oleh nelayan. Menurut Soemantri dan Suwelo (1985), penyu di Indonesia dimanfaatkan tidak hanya dagingnya maupun telurnya, tetapi juga sisik, kulit, dan tulangnya. Telur dan daging penyu biasanya dikonsumsi oleh penduduk yang tinggal di pantai dan mereka berprofesi sebagai nelayan. Sedangkan produk samping di luar daging dapat dimanfaatkan untuk kerajinan dan hiasan, berupa kulit tangan belakang dan depan serta tempurung punggung (karapas).

Namun demikian pemanfaatan penyu yang tidak diimbangi dengan usaha pelestarian, akan menyebabkan menurunnya populasi penyu. Langkah yang perlu ditempuh adalah upaya mengembangbiakkan dengan jalan menetaskan telur penyu (tukik) sebagai penerus.

Keberhasilan pengelolaan tersebut banyak tergantung pada kadar dukungan dan penghargaan yang diberikan kepada kawasan yang dilindungi oleh masyarakat sekitar kawasan tersebut. Tanpa dukungan masyarakat, khususnya penduduk setempat, maka kegiatan konservasi tidak akan berhasil secara sempurna dan hasilnya tidak akan optimal. Penduduk setempat biasanya akan bekerjasama dengan pengelola dalam melindungi kawasan itu dari kegiatan yang membahayakan, bila kegiatan-kegiatan konservasi memberi manfaat secara positif kepada mereka.

Kegiatan Tugas Akhir ini dilakukan di Desa Kalipait dan Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Benyuwangi, Jawa Timur selama 1,5 bulan yang dimulai pada bulan Mei sampai pertengahan Juni. Tujuan dari Tugas Akhir ini antara lain:

  1. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap konservasi penyu laut di Taman Nasional Alas Purwo, khususnya di Desa Kalipait dan Desa Kendalrejo,
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap konservasi penyu laut di Taman Nasional Alas Purwo, khususnya di Desa Kalipait dan Desa Kendalrejo,
  3. Untuk membandingkan persepsi masyarakat Desa Kalipait dan Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berdasarkan karakteristik responden.

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara dengan 30 responden untuk masing-masing Desa.

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang mempengaruhi pesepasi masyarakat baik Desa Kalipait maupun Desa Kendalrejo ada dua yaitu faktor internal dan faktor ekstenal. Dari faktor internal yang mempengeruhi persepsi masyarakat adalah tingkat pendidikan, pendapatan, dan mata pencaharian, sedangkan dari faktor eksternal yang mempengaruhi pesepsi masyarakat adalah pengaruh kelompok, pengalaman masa lalu, dan latar balakang sosial budaya. Bila dibandingkan secara umum tingkat persepsi masyarakat Desa Kendalrejo lebih tinggi dari pada pesepsi masyarakat Desa Kalipait.



Mahasiswa Program Studi Diploma III KSDH Departemen KSDHE Fakultas Kehutanan IPB


Kembali