PERSEPSI DAN INTERAKSI MASYARAKAT

TERHADAP KONSERVASI PENYU LAUT

DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

(Studi Kasus di Desa Sumberasri dan Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur)

(2006)

 

Oleh : Fajar Prasetio N.*

Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman sumberdaya alam hayati yang cukup melimpah dengan potensi ekonomi yang cukup tinggi yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Hasil sumberdaya alam hayati juga mampu mendatangkan sumber devisa negara dari hasil ekspor sumberdaya tersebut. Dalam pemanfaatan sumberdaya alam hayati diharapkan sebijaksana mungkin agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Flora fauna merupakan salah satu jenis keanekaragaman hayati. Dari jumlah jenis flora dan fauna yang terdapat di Indonesia baru sebagian kecil yang dibudidayakan secara intensif.

Penyu merupakan salah satu jenis fauna yang keberadaan populasinya terancam punah. Terdapat 7 jenis spesies penyu laut di dunia dan 6 diantaranya di Indonesia. Keenam jenis penyu yang ditemukan diperairan Indonesia tersebut adalah: penyu lekang (Lepidochelis olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu beliumbing (Dermochelys careacea), penyu karet (Caretta caretta), penyu pipih (Natator depressa), dan penyu hijau (Chelonia mydas).

Di tingkat internasional penyu laut telah dinyatakan langka dan terdapat dalam Appendix I CITES. Untuk menjaga agar keanekaragaman hayati tersebut tidak punah harus ada pengelolaan sebijaksana mungkin diantaranya pengamanan kawasan. Pengamanan tersebut juga tidak akan optimal tanpa adanya dukungan masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal disekitar kawasan. Dukungan tersebut ada karena adanya persepsi masyarakat, dan persepsi inilah yang nantinya mempengaruhi adanya interaksi terhadap penyu.

Penelitian dilakukan di Desa Sumberasri dan Desa Grajagan Kec. Purwoharjo Kab. Banyuwangi, Jawa Timur. Mulai pertengahan bulan Mei sampai Juni 2006. Tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap konservasi penyu serta faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap konservasi penyu
  2. Untuk mengetahui bentuk interaksi masyarakat terhadap penyu laut
  3. Untuk membandingkan persepsi dan interaksi masyarakat Desa Sumberasri dan masyarakat Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan penyebaran kuisioner sebanyak 30 responden untuk masing-masing desa.

Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi tingkat persepsinya. Selain itu juga dipengaruhi oleh jenis mata pencaharian, tingkat umur, dan jenis kelamin. Masyarakat Desa Sumberasri memiliki tingkat persepsi lebih tinggi dibandingkan masyarakat Desa Grajagan. Bentuk-bentuk interaksi yang dijumpai adalah: perjumpaan penyu di laut akibat tersangkut jaring, pengambilan telur penyu, perburuan penyu, dan pengambilan penyu untuk dijadikan hiasan.



Mahasiswa Program Studi Diploma III KSDH Departemen KSDHE Fakultas Kehutanan IPB


Kembali