ANALISIS POLA PENGGUNAAN WAKTU Bos javanicus D’ALTON, 1823 DI PADANG PENGGEMBALAAN SADENGAN TAMAN NASIONAL ALAS PURWO, JAWA TIMUR

(2006)

 

Oleh : Dian Rahayu

                Banteng merupakan satwaliar herbivora yang bersifat pemakan rumput (grazer) daripada pemakan semak (browser). Menurut IUCN (2002) banteng sedang mengalami penurunan populasi dengan status konservasi terancam punah, selain itu banteng merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang, oleh karena itu keberadaannya perlu dijaga dan dilestarikan. Satwa ini aktif sepanjang siang hari yaitu mulai pagi hingga petang hari dengan kemampuan beradaptasi yang cepat terhadap lingkungan dan memiliki daya tarik tersendiri karena hidupnya yang bebas dan struktur tubuh yang indah, sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi sasaran para pemburu untuk mendapatkan daging, kulit dan bagian-bagian lainnya yang dapat dimanfaatkan, sehingga ruang gerak satwa ini menjadi sangat sempit.

            Di Indonesia saat ini penyebaran banteng hanya terbatas pada kawasan konservasi diantaranya Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Taman Nasional Baluran (TNB), Cagar Alam Leuweung Sancang dan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP). Keberadaan banteng hanya masih bisa ditemukan di TNUK dan TNAP, sedangkan TNB dan Cagar Alam Leuweung Sancang sudah sangat sulit untuk menemukan secara langsung kawanan banteng.

            Pengelolaan banteng yang berada di TNAP akan berhasil apabila pengelola memiliki pengetahuan mengenai pola perilakunya. Salah satu aspek perilaku satwa yaitu pola penggunaan waktu banteng berdasarkan kelas umur yang meliputi alokasi penggunaan waktu suatu aktivitas dan pola penyebaran aktivitas.

            Oleh karena itu perlu adanya penelitian mengenai alokasi pola penggunaan waktu oleh banteng berdasarkan kelas umur di TNAP, sehingga pengelolaan satwa khususnya banteng yang ada di TNAP menjadi lebih baik.

            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa alokasi waktu (time budget) berbagai aktivitas untuk setiap kelas umur banteng dan menganalisa penyebaran aktivitas harian (ritme aktivitas) menurut waktu harian banteng. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai data-data dasar bagi pengelola TNAP, khususnya di dalam pengelolaan banteng. Informasi mengenai ritme aktivitas dan time budget yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk pariwisata, inventarisasi, perlindungan maupun pelestarian. Selain itu, informasi yang diperoleh diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mengenai perilaku banteng.

            Penelitian tentang analisis pola penggunaan waktu Bos javanicus d’Alton 1823 dilakukan di Padang Penggembalaan Sadengan Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur. Pengambilan data di lapangan dilaksankan selama 2 bulan yakni April sampai Mei 2006. Metode yang digunakan untuk penyebaran aktivitas dengan menggunakan metode scan sampling dengan interval 15 menit, pada masing-masing kelas umur dilakukan pengamatan selama 7 kali ulangan setiap bulan. Data alokasi waktu menggunakan matode focal animal sampling dengan interval 15 menit yang dilakukan dalam tiga periode pengamatan yaitu pagi hari pukul (05.00-09.00), siang hari pukul (09.00-14.00) dan sore hari pukul (14.00-17.00). Parameter yang diukur dan diamati adalah aktivitas makan, istirahat, berpindah, pengawasan dan interaksi sosial. Data yang diperoleh dianalisis melalui teknik penyajian deskriptif, grafik dan kuantitatif dengan menggunakan Uji Chi-kuadrat untuk mengetahui hubungan alokasi waktu dan kelas umur.

            Sebaran aktivitas dari Bulan April sampai Mei, diperoleh hasil bahwa persentase aktif relatif bervariasi. Pada Bulan April periode pagi hari persentase aktif terlihat mulai pukul 05.15, lain halnya pada Bulan Mei pada periode pagi hari terlihat persentase aktif aktif pada awal pengamatan yaitu pukul 05.00. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan dimana pada Bulan April masih terjadi musim hujan sedangkan pada Bulan Mei sudah mengalami musim kemarau.

            Sebaran aktivitas untuk semua kelas umur dari bulan ke bulan terlihat bervariasi. Hal ini dimungkinkan karena kondisi saat pengamatan dengan pengamatan yang lain berbeda. Terlihat sangat jelas pada Bulan April semua kelas individu pada periode pagi hari cenderung tidak aktif pada awal pengamatan sedangkan pada Bulan Mei semua kelas umur menunjukkan persentase aktifnya mulai dari awal pengamatan. Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa pada Bulan April, banteng banyak memilih makan pada siang hari hal ini disebabkan pada Bulan April masih terjadi musim hujan dan rumput masih basah dan individu yang terlihat pun sedikit karena cadangan makanan di luar Sadengan masih banyak, sedangkan pada Bulan Mei semua kelas umur aktif dan aktivitas makan tertinggi terjadi pada siang dan sore ahri. Individu yang ditemukan pada Bulan Mei sangat tinggi, hal ini disebabkan musim hujan sudah berakhir dan konsdisinya mulai kering sehingga cadangan makanan dan air di luar Sadengan mulai berkurang sehingga banyak kelompok banteng masuk Sadengan.

            Dari hasil pengamatan banteng selama 2 bulan April sampai Mei, dari bulan ke bulan sangat bervariasi, sama halnya dengan perilaku kerbau air Taman Nasional Komodo, dengan demikian persentase individu aktif berfluktuasi menurut waktu, dimana pola keaktifan individu yang diamati cenderung polyphasic yang mana waktu aktif satwa lebih dari dua kali sehari yang biasanya dengan waktu istirahat. Hal ini sesuai dengan pendapat Preffer et al. 1967 dalam Anwar (1997), bahwa satwa mamalia besar mempunyai pola aktivitas polyphasic dimana dalam sehari terdapat beberapa periode aktivitas yang tinggi, diselingi waktu istirahat.

            Alokasi waktu aktivitas harian dari bulan ke bulan pada setiap kelas individu berbeda secara nyata. Urutan alokasi waktu dari tiap bulannya untuk semua kelas umur yaitu pada Bulan April dan Mei alokasi waktu terbesar untuk aktivitas makan. Alokasi waktu aktivitas makan pada Bulan April dari terbesar sampai terendah yaitu betina dewasa 493.42 menit, jantan remaja 492.58 menit, jantan dewasa sebesar 486.9 menit, anak 485.75 menit dan betina remaja 475.51 menit, sedangkan pada Bulan Mei alokasi waktu untuk aktivitas makan dari terbesar sampai terendah berturut-turut yaitu anak 476.43 menit, betina remaja 467.22 menit, betina dewasa 461.43 menit, jantan remaja 442.97 menit dan jantan dewasa 405.76 menit.

            Berdasarkan alokasi Uji Chi-kuadrat menunjukkan bahwa x² hitung pada Bulan April dan lebih besar dari nilai x² tabel. Ini berarti status sosial pada Bulan April dan Mei berpengaruh secara nyata terhadap alokasi penggunaan waktu aktivitas banteng baik pada periode pagi, siang dan sore hari. Hal ini ditunjukkan dengan adanya variasi penggunaan waktu aktivitas dari masing-masing individu berdasarkan status sosial pada semua periode pengamatan.



Mahasiswa Departemen KSDHE Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor


Kembali