KARAKTERISTIK BIOEKOLOGI PENYU LEKANG (Lepidochelys olivaceae) DI PANTAI MARENGAN TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI – JAWA TIMUR

(2006)

Oleh : Ari Satya Hartanti

Penyu laut merupakan salah satu jenis hewan reptilian yang termasuk poikilothermal (suhu tubuh mengikuti suhu lingkungannya), dengan ciri-ciri yang khas yaitu bernapas dengan paru-paru, berkulit sisik, mempunyai tempurung/batoknya (karapas) yang sangat keras dan sangat khas, berkembang biak melalui penetasan telur, dan juga penyu bertelur namun tidak menjaga telur-telurnya hingga menetas (no parental care). Penyu yang ada di dunia ada 7 jenis dan 6 jenis diantaranya berada di perairan Indonesia. Penyu yang dilindungi di Indonesia ada 5 jenis yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lephidochelys olivaceae), penyu belimbing (Dermochelys coreaceae), penyu tempayan (Carreta carreta), dan penyu pipih (Natator depressa) yang dilindungi oleh SK Menteri, Lembaga Internasional seperti IUCN dan CITES yang masuk ke dalam Appendix I. Untuk jenis penyu lekang (Lephidochelys olivaceae) dilindungi berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 716/Kpts/Um/10/1980 dan termasuk kedalam Red Data Book-IUCN serta dalam Appendix I CITES.

Banyaknya pemanfaatan yang berlebihan yang dilakukan oleh manusia mengakibatkan populasi penyu terancam. Banyaknya pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia karena penyu itu sendiri mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Dari seekor penyu, daging dan telurnya dapat dimanfaatkan karena mempunyai sumber protein sedangkan karapasnya banyak dimanfaatkan sebagai souvenir. Karena banyaknya pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia maka populasi penyu yang ada harus dilestarikan.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi habitat peneluran yang cocok untuk jenis penyu lekang (Lephidochelys olivaceae), mengetahui penyebaran lokasi sarang, dan mengetahui jumlah telur berdasarkan panjang karapas.

Kegiatan tugas akhir ini dilakukan di Pantai Marengan, Ngagelan Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi – Jawa Timur, yang berlangsung dari bulan Mei sampai dengan Juli 2006 selama 45 hari. Alat dan bahan yang digunakan diantaranya termometer tanah, kantong polyethelene, roll meter, kamera, selang plastik, tambang, kertas label, tally sheet, senter, alat tulis, jangka sorong, jam tangan, kompas dan masih banyak lagi.

Pengambilan data diawali dengan mengukur karakteristik pantai, untuk mengetahui panjang pantai Marengan dilakukan dengan melihat pal batas yang berada disepanjang pantai peneluran penyu. Lebar pantai dilakukan dengan menarik garis tegak lurus dari batas surut terendah air laut sampai ke batas vegetasi pantai, yang diukur pada saat bulan purnama. Pengukuran kelerengan pantai dilakukan dengan menggunakan selang plastik yang diisi air, lalu dibentangkan ke arah daratan dengan menggunakan kayu pancang berskala. Kayu pancang berskala diletakkan pada bagian pantai yang ekstrim, sehingga dapat mengetahui pasang surut pantai. Ukuran sarang diukur dengan mengukur panjang dan lebar sarang. Kedalaman sarang yang diukur adalah kedalaman lubang badan dan lubang telur paling dalam. Fraksi pasir diambil empat contoh pasir. Pengambilan pasir dari permukaan sarang, kedalaman 25 cm dan 45 cm. Pengambilan sampel dipilih mewakili tipe pasir yang ada. Masing-masing diambil 2 contoh uji dan selanjutnya diuji di laboratorium tanah IPB untuk mengetahui fraksi pasir sarang penyu. Metode yang digunakan adalah penyaringan pasir dengan alat saringan pasir bertingkat.

Untuk mengetahui suhu sarang, sarang diukur pada permukaan sarang (± 10 cm) dan kedalaman sarang (± 25 cm) dengan menggunakan termometer tanah. Ukuran panjang penyu lekang bertelur dilakukan yaitu mengikuti lengkung karapas, pengukuran lebar karapas menggunakan metode CCW (Curve Carapace Wide) pengukuran lebar karapas dengan mengikuti lebar karapas. Untuk mempelajari komposisi jenis dan struktur vegetasi pantai dibuat plot ukur untuk masing-masing stasiun berupa jalur, untuk tingkat semai dibuat petak dengan ukuran 2 x 2 m dan tingkat pancang dengan ukuran 10 m x 10 m. Penghitungan jumlah penyu yang naik baik yang bertelur maupun yang mendarat saja dilakukan dengan metode sensus setiap hari. Pemetaan penyebaran sarang penyu dilakukan terhadap lebar dan panjang pantai pada seluruh pantai Marengan. Untuk mengetahui jumlah telur maka dilakukan pengambilan telur penyu langsung di sarangnya yang ditemukan di sepanjang pantai Marengan dan telur itu langsung dipindahkan ke sarang semi alami untuk ditetaskan. Dari telur yang diambil, dihitung ukurannya dengan menggunakan jangka sorong. Untuk mengetahui jenis satwa tersebut dapat dilakukan dengan pengamatan di sepanjang pantai.

Panjang pantai Marengan secara keseluruhan 18,5 km yang membentang dari barat (Cungur) sampai timur (Pancur), diukur dengan melihat pal batas di sepanjang pantai. Hasil pengukuran selama di lapangan menunjukkan bahwa kemiringan terbesar terdapat pada HM 180 yaitu 5,70. Pada HM 180 tidak ditemukan penyu yang mendarat atau bertelur ini dikarenakan penyu lekang tidak begitu menyukai daerah peneluran yang curam. Pengukuran posisi sarang menunjukkan bahwa bagian pantai yang dipilih dan disukai oleh penyu lekang untuk bertelur adalah bagian pantai yang lebarnya sekitar 44,13 meter yang terdapat di HM 54. Panjang dan lebar sarang terkecil ukurannya sama yaitu 16 cm sedangkan ukuran yang terbesar yaitu 120 cm dan 83 cm. Kedalaman tempat bertelur yang dipilih oleh penyu lekang sangat bervariasi. Untuk kedalaman sarang antara 13 sampai 36 cm, kedalaman lubang badan ukurannya antara 10 sampai 38 cm, untuk kedalaman sarang dan kedalaman lubang badan yaitu 18,61 dan 16 cm. Pasir yang disukai oleh penyu untuk bertelur adalah jenis pasir sedang (173-250 mm) dan pasir yang tidak disukai oleh penyu untuk bertelur adalah jenis pasir halus (75-106 mm). Pengukuran suhu sarang yang dilakukan pada sarang alami yang terdapat di HM 81 berkisar antara 22-30,5. Pengukuran suhu sarang yang dilakukan pada saat sarang digali oleh penyu untuk bertelur berkisar antara 27 sampai dengan 32. Hasil pengukuran terhadap penyu lekang (Lephidochelys olivaceae) yang ditemukan di Pantai Marengan, Taman Nasional Alas Purwo mempunyai panjang karapas antara 66-73 cm dengan rata-­rata 69,5 cm dan lebar karapas berkisar antara 65-70 cm dengan rata-rata 69,67 cm. Penyu yang menyukai lokasi untuk bertelur yaitu pada arah timur dengan jumlah penyu yaitu 31 ekor dan pada arah barat jumlah penyu yang datang berjumlah 19 ekor. Ukuran telur penyu lekang berkisar antara 33-38 mm. Hubungan antara panjang dan lebar karapas penyu lekang yang dianalisis menggunakan persamaan regresi linear dan diperoleh nilai R2 = 0,3507, ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara panjang dan lebar karapas, sedangkan hubungan antara panjang karapas dan jumlah telur penyu lekang yang dianalisis menggunakan persamaan regresi linear dan diperoleh nilai R2 = 0,7117 ini menunjukkan terdapatnya hubungan yang erat antara panjang karapas dengan jumlah telur, dari nilai tersebut memperlihatkan bahwa semakin panjang karapas

maka telur yang dihasilkan pun semakin bertambah.



Mahasiswa Program Studi Diploma III KSDH Departemen KSDHE Fakultas Kehutanan IPB


Kembali