Anggit Haryoso
 

TELAAH BIOEKOLOGI DAN PENGELOLAAN POPULASI PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI

(1999)

 

Oleh : Anggit Haryoso

Penyu yang ada di dunia terdapat tujuh jenis, enam jenis diantaranya terdapat di perairan Indonesia. Enam jenis penyu tersebut, antara lain: penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coreacea), penyu tempayan (Carreta carreta), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu pipih (Natator depressa), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Di Taman Nasional Alas Purwo potensi penyu terbesar adalah jenis penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu hijau (Chelonia mydas).

Besamya manfaat yang. dapat diambil dari seekor penyu juga dapat membahayakan keberadaan dan kelestarian penyu, apabila dalam pemanfaatannya dilakukan tanpa terkendali. Untuk menjaga tercapainya kelestarian penyu lekang maka kegiatan pengelolaan yang tepat sangat diperlukan. Selain itu teknik pengembangan populasi dan upaya pengendalian gangguan terhadap populasi menjadi bagian yang penting dalam kegiatan pengelolaan penyu lekang di Taman Nasional Alas Purwo.

Penelitian bertujuan untuk menganalisa potensi dan regenerasi penyu lekang di Taman Nasionai Alas Purwo, Banyuwangi berdasarkan kondisi struktur populasi penyu betina dewasa serta mengetahui upaya pengelolaan populasi penyu lekang yang dilakukan oleh pihak taman nasional. Dari hasil penelitian yang diperoleh, diharapkan mampu memberikan informasi dasar mengenai aspek biologi dan populasi penyu lekang serta usaha konservasi yang dapat dilakukan daiam rangka mendukung kelestariannya.

Berdasarkan data penyu mendarat dan bertelur (1983-1997) yang diperoleh dari kantor Taman Nasional Alas Purwo menunjukkan bahwa perkembangan jumlah penyu mendarat dan bertelur di Pantai Marengan memperlihatkan kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dengan memperhatikan dugaan umur penyu maka peningkatan tersebut diduga merupakan hasil dari pengelolaan yang telah dilakukan oleh pihak taman nasional. Disamping itu jumiah penyu lekang yang mendarat dan bertelur di Pantai Marengan mengalami peningkatan pendaratan selama musim kemarau, dengan puncak pada bulan Juni dan menurun kembali setelah musim penghujan.

Hasil pengukuran terhadap 76 penyu lekang yang dijumpai selama penelitian mempunyai panjang karapas yang berkisar antara 65-75 cm dengan rata-rata 69,91 cm, lebar karapas berkisar antara 62,5-71,5 cm dengan rata-rata 66,63 cm,  jumlah telur antara 52-148 butir dengan rata-rata 105,28 butir dan diameter telur yang berkisar antara 3,65-4 cm dengan rata-rata 3,85 cm. Pengukuran menunjukkan bahwa ukuran penyu lekang yang mendarat di Pantai Marengan mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan jengan ukuran penyu vang dijumpai Marquez (1990) pada beberapa pantai peneluran lainnya (Mozambique, Mexico, dan Madagascar). Ukuran penyu yang lebih besar memberikan indikasi adanya tingkat pertumbuhan yang lebih baik. Hal tersebut diduga karena kondisi daya dukung habitat penyu lekang di Pantai Marengan yang masih baik.

Berdasarkan perhitungan tingkat hubungan antar variabel fisik penyu menunjukkan adanya keeratan hubungan yang berbeda-beda. Tingkat keeratan tertinggi dimiliki oleh hubungan panjang dan lebar karapas (R2 = 1), serta hubungan terendah ditunjukkan oleh lebar karapas dan jumlah telur (R2 = 0,07). Dari nilai. korelasi yang diperoleh menunjukkan bahwa variabel panjang mempunyai peluang untuk memberikan pengaruh terhadap variabel fisik lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa variabel panjang lebih relefan untuk menduga umur penyu lekang.

Produksi telur penyu lekang sejak dilakukan pengelolaan (1983) menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat. Namun demikian peningkatan produksi telur penyu lekang tidak diikuti peningkatan produksi telur tiga jenis penyu lainnya. Peningkatan produksi telur penyu lekang karena penyu lekang lebih tahan terhadap gangguan dibandingkan dengan tiga jenis penyu lainnya.

Kondisi struktur populasi penyu lekang di Pantai Marengan dengan menggunakan pendekatan melalui sebaran ukuran panjang penyu lekang menunjukkan kondisi populasi yang menurun (regressive population). Hal ini terlihat dari jumlah penyu dengan panjang karapas 65-67 cm lebih sedikit dibanding dengan jumlah penyu yang panjang karapasnya 67-79 cm. Disamping itu umur produktif penyu lekang terjadi saat panjang karapasnya mencapai 69-71 cm dan mengalami kemunduran saat panjang karapasnya 73-75 cm.

Penyu lekang menyukai pantai yang datar hingga landai dengan karakteristik pasir putih dengan sedikit lumpur, berwarna coke!at, sedikit rumput lari (Spinifex littoralis) dan rumput teki laut (Cyperus rotundus). Dalam melakukan kegiatan bertelurnya, penyu lekang melakukan tujuh tahapan (menepi dan mencari tempat bertelur, membuat lubang badan, membuat lubang telur, bertelur, menutup lubang telur, membuat tipuan dan kembali ke laut). Dari pengamatan terhadap sepuluh ekor penyu yang dilakukan secara acak menunjukkan bahwa kegiatan bertelur adalah tahapan yang membutuhkan waktu paling lama (rata-rata 17,1 menit), dan waktu tercepat (rala-rata 8,9 menit) pada tahapan menutup lubang telur. Selain itu waktu pendaratan penyu dimulai pukul 19.13–03.45 WIB.

Gangguan terhadap populasi penyu lekang di Pantai Marengan secara garis besar dikelompokkan ke dalam empat gangguan. Pertama adalah gangguan dari satwa pemangsa, kedua aktivitas manusia, ketiga fenomena alam, dan terakhir adanya serangan jamur dan penyakit. Predator yang sering dijumpai adalah babi hutan (Sus Scrofa), biawak (Varanus salvator), kepiting pantai (Ocypoda sp.) dan macan tutul (Panthera pardus). Sedangkan aktivitas manusia yang mengganggu adalah pencarian kerang, penjaringan ikan (tepi atau tengah laut) serta perburuan telur penyu.

Pantai Marengan sebagai tempat peneluran berada di dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Pengelolaan langsung dilakukan oleh instansi Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA). Khusus untuk pembinaan penyu berada dalam kawasan Resort Rowobendo dan Resort Grajagan, Sub Seksi PPA Alas Purwo. Upaya pelestarian penyu yang telah dilakukan adalah patroli pengamanan (darat dan laut), penetasan telur semi alamiah, pemeliharaan dan pelepasan tukik.

 



Mahasiswa Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor


Kembali