ATRAKSI WISATA
 

Taman Nasional Alas Purwo menyimpan potensi wisata yang sangat besar. Terdapat banyak lokasi obyek dan daya tarik wisata (ODTWA) di dalamnya. Taman Nasional Alas Purwo memiliki beberapa pantai yang unik dan potensial seperti ombak yang cocok untuk olah raga surfing, pantai tempat peneluran penyu, pantai yang berpasir putih, terumbu karang serta laguna yang dipenuhi burung migran pada musim-musim tertentu. Beberapa Obyek Daya Tarik Wisata Alam Taman Nasional Alas Purwo antara lain :

PANTAI TRIANGGULASI
Trianggulasi diambil dari nama titik ikat dalam pengukuran dan pemetaan yang terletak ± 500 dari utara pantai. Trianggulasi merupakan salah satu pantai yang mempunyai formasi hutan pantai yang masih lengkap, didominasi pohon nyampung (Calophyllum inophyllum), bogem (Baringtonia asiatica) dan pandan laut (Pandanus tectorius). Kondisi pantainya berpasir putih bersih, biasanya pada bulan April – November digunakan oleh 4 jenis penyu yang ada di Alas Purwo untuk bertelur (penyu belimbing, sisik, abu-abu dan hijau). Panorama lain yang bisa dinikmati diantaranya adalah sunset dan atraksi satwa jenis kera abu-abu, lutung, tupai, bajing, musang, rusa, kijang, babi hutan, dan biawak. Sarana yang tersedia berupa wisma tamu dan pesanggrahan.

Pantai Triangulasi Pesanggrahan di Pantai Triangulasi

SADENGAN
Merupakan padang penggembalaan (feeding ground) buatan seluas ± 80 Ha. Di Sadengan terdapat menara pandang untuk menyaksikan atraksi satwa yang sedang merumput, antara lain banteng (Bos javanicus), kijang (Muntiacus muntjak), rusa (Cervus timorensis), babi hutan (Sus scrofa) dan berbagai jenis burung.

Waktu pengamatan terbaik adalah pukul 06.00-09.00 dan 15.00-18.00 WIB meskipun sepanjang hari dapat dilakukan pengamatan. Para pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda empat/ dua menuju areal parkir yang disediakan agar tidak mengganggu satwa liar yang ada di padang penggembalaan. Padang Penggembalaan Sadengan berjarak ± 2 km dari Trianggulasi.

Menara pengamatan satwa di Sadengan Kondisi Feeding Ground Sadengan

PURA LUHUR GIRI SALAKA
Tempat persembahyangan umat Hindu, berada di jalan masuk ke Triangulasi. Pura ini merupakan salah satu pura peninggalan sejarah yang sampai sekarang masih dipakai oleh umat Hindu untuk acara keagamaan yaitu upacara Pager Wesi yang diadakan setiap 210 hari sekali. Acara sakral tersebut yaitu upacara penyelamatan ilmu pengetahuan penolak ancaman raksasa bagi umat manusia yang diturunkan oleh para dewa. Dalam upacara tersebut ada yang disebut Prosesi Palemahan yaitu membuang sesaji ke tanah agar dimakan oleh Raksasa Betarakala. Pawongan yaitu upacara umat Hindu tanda syukur kepada Sang Dewa yang telah memberikan ilmu pengetahuan.

Pura Luhur Giri Salaka Upacara Pager Wesi di Pura Luhur Giri Salaka

NGAGELAN
Ngagelan merupakan pantai yang terletak di sebelah Barat Trianggulasi berjarak ± 8 km, merupakan tempat penetasan telur penyu semi alami. Merupakan salah satu lokasi pendaratan dan peneluran 4 jenis penyu dari 6 jenis yang ada di Indonesia dan 7 jenis yang ada di dunia, yaitu : penyu lekang/ abu-abu (Lepidochelys olivaceae), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coreacea) dan penyu hijau (Chelonia mydas).

Ngagelan merupakan pusat dari kegiatan pengumpulan telur penyu dari Pancur sampai Cungur dengan panjang garis pantai sekitar 18 km. Atraksi wisata yang ada di Ngagelan yaitu lalar (pencarian telur penyu di malam hari) dan pelepasan tukik ke laut. Ngagelan bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat/ dua dari Pos Rowobendo menuju ke arah Barat atau dijangkau dari Trianggulasi dengan berjalan kaki melalui pantai.

Pelepasan Tukik oleh para pengunjung di Ngagelan Tukik yang dilepaskan ke laut

BEDUL
Bedul merupakan salah satu obyek di kawasan TN. Alas Puwo yang berjarak ? 13 km dari Pos Rowobendo. Bedul sangat potensial untuk wisata bahari, dan didukung oleh potensi hutan mangrove (Avicenia Sp, Bruguiera Sp, Rhizopora Sp dan Sonetaria Sp) yang masih utuh dan sering digunakan untuk mencari makan dan berkembang biak beberapa jenis burung air (bangau tong-tong, pecuk ular, trinil, raja udang dan lain-lain) serta burung migran.

Selain itu Bedul merupakan salah satu tempat yang digunakan masyarakat untuk mencari kerang, udang, kepiting dan ikan yang ada disana dengan menggunakan alat tangkap tradisional sehingga kegiatan tersebut merupakan salah satu atraksi wisata di Bedul. Dalam pengembangan Blok Bedul, Balai Taman Nasional Alas Purwo bekerjasama dengan Desa Sumbersari yang didasarkan pada “Pengembangan Wisata Alam Terbatas Blok Bedul”. Pengembangan pariwisata di Blok Bedul diarahkan untuk wisata berwawasan lingkungan (ecotourism), yang mengedepankan prinsip-prinsip konservasi.

Gondang-Gandung (Alat transportasi ekowisata mangrove Bedul) Kedai di ekowisata mangrove Bedul

CUNGUR
Cungur merupakan wilayah pantai bagian Barat Taman Nasional Alas Purwo. Wilayah cungur merupakan daratan hutan pantai yang hanya dibatasi oleh pengaruh pasang surut air laut yang masuk dari Samudera Hindia ke dalam muara sungai Segoro Anakan. Wilayah pantai cungur memiliki ekosistem khas hutan dataran rendah, hutan pantai, dan hutan mangroove. Lokasi ini sering digunakan sebagai habitat burung-burung air untuk berkembang biak dan mencari makan, bahkan setiap tahunnya sering dilintasi dan dikunjungi oleh beberapa jenis burung migran dengan jumlah yang cukup banyak. Tercatat sebanyak ± 39 jenis burung yang terdapat di wilayah ini.

Cungur sering dijadikan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam oleh para pengunjung Taman Nasional Alas Purwo untuk melakukan aktifitas wisata seperti Birdwatching, fotografi pemandangan dan lain sebagainya. Para pecinta burung, fotografer dan peneliti sering mengunjungi kawasan ini untuk memanfaatkan atraksi alam liar berupa keberadaan burung-burung migran yang datang setiap tahunnya, pemandangan sunset tepi pantai pada sore hari, dan hilir mudik kapal-kapal nelayan yang bersandar di pelabuhan Grajagan.

Burung migran di Cungur Burung migran di Cungur

PANCUR
Terletak di sebelah timur Trianggulasi, berjarak ± 3 km dan merupakan camping ground yang dapat menampung 6 buah tenda berukuran 4 x 6 m2 (60 – 100 orang), selain itu terdapat pos jaga yang merupakan sarana yang ada di resort Pancur. Dinamakan Pancur karena ada sungai yang mengalir sepanjang tahun ke laut melalui pantai yang agak terjal sehingga membentuk Pancuran. Adapun potensi wisata yang ada di Pancur adalah Panorama sore hari (sunset), Mammal Watching dan Jungle Tracking. Dua km sebelah utara Pancur terdapat goa sakral yang dijadikan sebagai wisata religi oleh masyarakat, yaitu Goa Istana dan Sendang Srengenge yang sangat terkenal dikalangan para supranatural. Tidak jauh dari Pancur terdapat karang hitam (karang mati) yang lebih dikenal dengan sebutan Parang Ireng, memiliki pantai dengan pasir gotri.

Pantai Parang Ireng di Pancur Kegiatan berkemah di Pancur

PANTAI PLENGKUNG
Terletak di Selatan Pancur (± 8,3 km), dapat di jangkau dengan jalan kaki (± 2 jam) atau menggunakan angkutan khusus (± 45 menit). Di sepanjang jalan terlihat pantai berpanorama indah dengan flora khas sawo kecik (Manilkara kauki). Plengkung mempunyai keunikan tersendiri dengan ombak yang sangat bagus untuk olah raga selancar. Menurut para peselancar dunia, ombak di Plengkung termasuk 3 besar terbaik dunia dan telah 4 kali dijadikan lokasi event tingkat internasional. Saat ini di Plengkung terdapat 3 (tiga) pengusaha pariwisata alam yang menyediakan sarana surfing maupun penginapan.

Keadaan pantai Plengkung yaitu batas pasang surut mencapai ± 1 km dari garis pantai dengan dasar pantai karang mati yang rata diakibatkan abrasi. Pada bagian Barat pantai Plengkung sekitar 1,2 km dari garis pantai terdapat patahan dasar laut yang membentuk palung laut, Disamping itu terdapat dinding karang yang berjarak ± 600 meter dari garis pantai yang mengelilingi bagian Selatan Taman Nasional Alas Purwo.

Adanya palung laut dan dinding karang tersebut mengakibatkan terjadinya arus bawah laut dan membentur dinding karang yang membentuk gelombang air laut yang besar dengan ketinggian antara 6-7 feet. Gelombang laut yang besar dengan panjang mencapai 1-2 km serta berlapis-lapis sangat baik untuk olah raga surfing. 6-7 lapis gelombang yang sering terlihat di Plengkung terutama antara bulan Juni-Juli. Para peselancar menamai masing-masing jenis ombak tersebut dengan nama : Kong, Money trees, Launching pad, Speedy, Chicken break, Twenty-twenty dan Tiger track. Tinggi dan panjang serta lapisan gelombang tersebut tergantung ada tidaknya angin Barat ke laut. Kegiatan surfing biasanya dilakukan antara bulan Maret – Oktober.

Surfing di Pantai Plengkung Saung santai di Pantai Plengkung

MAKAM GANDRUNG
Makam Gandrung, merupakan obyek pertama yang bisa dijangkau di area Tanjung Sembulungan. Berlokasi di pantai barat Tanjung Sembulungan, kawasan wisata ini berjarak ± 2 km dari Pelabuhan Muncar ke arah tenggara. Pantai di Makam Gandrung berpasir putih bercampur koral sepanjang ± 100 m dengan laut yang relatif tenang, sehingga perahu dapat merapat dengan mudah dan aman. Pada lokasi ini terdapat 2 makam tempat peristirahatan penari gandrung yang terkenal dari daerah Banyuwangi. Biasanya masyarakat Muncar dan sekitarnya yang mayoritas nelayan mengirim doa (selamatan) untuk mendapatkan berkah agar hasil tangkapan ikannya melimpah.

Selain itu tanggal 15 Muharram setiap tahunnya di Makam Gandrung ini dilakukan upacara tradisional “Petik Laut”, yaitu acara yang diadakan oleh para nelayan Muncar sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki yang dilimpahkannya. Dan acara “Gitik” yaitu pelepasan sesaji ke laut dilanjutkan ziarah ke makam Gandrung yang diikuti oleh para nelayan dan dimeriahkan oleh penari gandrung.

Perayaan Petik laut yang dimeriahkan oleh Penari Gandrung Perayaan Petik laut yang dimeriahkan oleh Penari Gandrung

WISATA GOA
Kawasan Taman Nasional Alas Purwo mempunyai banyak goa, dan menurut hasil inventarisasi di Taman Nasional Alas Purwo terdapat 44 buah goa. Wisata Goa yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo diantaranya Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Basori dan Goa Jepang. Di goa-goa tersebut merupakan tempat kegiatan Ritual (semedi) dan tempat habitat Kelelawar serta Ular. Selain itu masih terdapat satu goa yang merupakan peninggalan Bangsa Jepang yang pernah dimanfaatkan oleh Bangsa Jepang pada zaman penjajahan yaitu dinamakan “Goa Jepang” berupa peralatan-peralatan yang digunakan dalam perang seperti meriam. Sedangkan di kawasan Goa Istana terdapat sumber air bernama Sendang Srengenge yang airnya diyakini dapat membuat orang awet muda.

Goa Jepang Goa Istana

TELUK BANYUBIRU (SLENGGRONG)
Kawasan ini ditandai oleh suatu cekungan pantai yang menjorok ke daratan dan air yang biru dan tenang. Teluk ini dipisahkan oleh tanjung kecil dengan kawasan Perpat. Di teluk Banyubiru ini, aktivitas diving, ski air, swimming, kanoing maupun berperahu dapat dilakukan. Dengan selingan bagang kambang dan bagang tancap, aktivitas olahraga air di kawasan ini menjadi lebih enjoy dan mengasikkan.

Pantai berpasir putih, lutung, elang laut dapat menjadi selingan menarik saat beristirahat di sepanjang pantainya yang ditumbuhi oleh lamun (rumput laut). Aktivitas menjaring ikan juga dapat dilakukan, karena kawasan ini menurut para nelayan merupakan kantong ikan. “Ikan yang datang tidak akan pergi lagi, karena warna airnya yang biru dan perairannya yang tenang.” Di bagian tengah, terdapat sungai (sunglon) yang disampingnya terdapat tonjolan daratan yang sering disebut sebagai Legon. Di Legon ini perairannya relatif tenang dan dapat digunakan untuk beristirahat di atas perahu tanpa takut terkena goncangan ombak yang hebat.

Teluk Banyubiru (Slenggrong) Teluk Banyubiru (Slenggrong)

KAYU AKING
Terletak di sebelah selatan Tanjung Sembulungan di Pantai Selat Bali. Berpasir putih bercampur koral, tidak berombak karena merupakan teluk dan dapat digunakan untuk mandi dan tidak berbahaya. Kayu Aking merupakan lokasi dengan tonjolan-tonjolan batu karang yang menjorok ke laut, sehingga di lokasi ini dapat dilakukan kegiatan wisata minat khusus yaitu memancing.

Lokasi ini bisa ditempuh dari dua arah, lewat laut dari Muncar ke arah Tenggara ± 5 km. Untuk yang lewat darat dapat ditempuh dengan naik sepeda motor melewati jalan setapak dari Kantor Balai TN Alas Purwo di Pasar Anyar ke arah Timur laut berjarak sekitar 7 km. Melewati Feeding Ground Sembulungan yang banyak terdapat burung-burung. Jenis burung yang ada antara lain : tekukur, jalak hitam, jalak uren, cucak hijau, kepodang dan lain-lain. Serta beberapa jenis mamalia antara lain : kijang, babi hutan dan kera abu-abu yang berukuran relatif kecil

Aktivitas Birdwaching di Kayu Aking Pasir Putih di Kayu Aking

PERPAT
Terletak di sebelah selatan Payaman, berjarak ± 5-10 km dari Payaman, hanya bisa dijangkau dari Muncar lewat laut dengan memakai perahu selama ± 2 jam. Perpat mempunyai laut yang tenang dan tidak bergelombang. Daerah ini merupakan teluk yang sering dijadikan persinggahan kapal apabila cuaca tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan dari Selat Bali menuju ke Pelabuhan Muncar. Area ini ditandai dengan adanya pohon Perpat (Bruguiera sp.) yang termasuk dalam kelompok mangrove.

Dengan terumbu karang yang bagus, Pantai Perpat dapat dijadikan sebagai lokasi snorkling dan diving yang menantang dengan ditunjang oleh hamparan terumbu yang masih relatif utuh. Selain itu dengan pantai yang berpasir putih yang lembut dan panjang ? 2 km, dapat dijadikan sebagai selingan bila aktivitas di perairan mengalami kejenuhan. ke bagian tengah perairan, bila cuaca memungkinkan sering dijumpai kelompok lumba-lumba yang berenang berkelompok dan berputar-putar di perairan untuk mencari makan.

Perpat Perpat Terumbu karang di Perpat

Kembali