Ika Purwantini
 

STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS KEPITING KEPONGOK (Cardisoma carnifex) DI HUTAN MANGROVE LAGUNA SEGARA ANAK TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI

(2003)

 

Oleh : Ika Purwantini

            Laguna Segara Anak taman Nasional Alas Purwo merupakan ekosistem lahan basah yang memiliki hutan mangrove cukup luas. Hutan mangrove merupakan tipe hutan khas yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan ini menghendaki kondisi lingkungan yang agak ekstrim untuk pertumbuhannya sehingga akan terbentuk suatu zonasi maupun faunanya. Kepiting kepongok adalah salah satu fauna mangrove yang memiliki peranan sangat penting.

Dalam upaya pengembangan keanekaragaman hayati diperlukan informasi tentang kelimpahan dan keanekaragaman kepiting kepongok khususnya di hutan mangrove.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis keanekaragaman hayati diperlukan informasi tentang kelimpahan dan keanekaragaman kepiting kepongok khususnya di hutan mangrove.

Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei sampai Juli 2003. Metode pengambilan sampel dengan menggunakan metode transek, tekhnik pengambilan sampel dilakukan secara sistematik dengan membuat plot berukuran 2×2 m dalam lokassi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggali lubang-lubang kepiting kepongok. Pengamatan ciri-ciri morfologi dilakukan di Laboratorium MIPA Biologi Universitas Brawijaya.

Hasil penelitian ini mendapatkan 3 spesies yaitu Uca (Deltuca) forcipata, Neopisesarma (Neopisesarma) mederi dan Nacrophthalmus (Mopsocarcinus) boscii. Keanekaragaman tertinggi terletak pada daerah yang lebih dekat dengan perairan dan keanekaragaman terendah terletak pada daerah yang lebih dekat dengan daratan. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa pH, salinitas dan suhu secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadapkeanekaragaman kepiting kepongok, tetapi jika dilihat secara sendiri-sendiri (parsial) menunjukkan bahwa pH, salinitas dan suhu tidak berpengaruh terhadap keanekaragaman kepiting kepongok. Di duga ada faktor lain yang berpengaruh yaitu gerakan pasang surut.

Masyarakat setempat haruslah menjaga kelestarian kawasan hutan mangrove karena keberadaan kepiting kepongok ini sangat penting untuk keseimbangan lingkungan terutama lingkungan hutan mangrove.

 



Mahasiswa Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Malang


Kembali