Ika Satyasari
 

EVALUASI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE : STUDI KASUS DI BEDUL, RESORT GRAJAGAN, TAMAN NASIONAL ALAS PURWO, BANYUWANGI, JAWA TIMUR

(2010)

 

Oleh : Ika Satyasari

            Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan tropic yang unik. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memiliki ekosistem mangrove yang masih alami. Pengembangan ekowisata mangrove di TNAP sudah dipikirkan sejak sebelum tahun 2007 oleh pihak TNAP dan Desa Sumberasri. Bagaimana juga, mewujudkan ekowisata yang memberikan kontribusi terhadap kepuasan pengunjung, kesejahteraan penduduk local dan berkelanjutan ekologi bukanlah hal yang mudah. Kekhawatiran timbul ketika istilah ”ekowisata” hanya digunakan untuk memasarkan suatu produk wisata tertentu karena minimnya pengetahuan stakeholder terhadap prinsip-prinsip ekowisata. Oleh karena itu, evaluasi pengembangan ekowisata mangrove di TNAP perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi ekowisata mangrove di TNAP, mengevaluasi kegiatan wisata yang sudah berjalan di Bedul dan pengembangannya sebagai ekowisata mangrove dan merumuskan rekomendasi terhadap penyelenggaraan ekowisata mangrove di  TNAP.

Data yang dikumpulkan meliputi : potensi ekowisata, kegiatan wisata yang sudah ada saat ini di bedul, kegiatan masyarakat local terkait ekowisata dan proses-proses pengembangan ekowisata mangrove (tujuan dan fungsi TNAP, stakeholder dan kebijakan terkait ekowisata). Data dikumpulkan berdasarkan studi literature, penyelusuran dokumen, diskusi, observasi dan wawancara. Data dianalisis berdasarkan jenis dan fungsinya. Setiap analisis permasalahan saling berhubungan sehingga dapat digunakan sebagai bahan cross chek antara realitas dan prinsip-prinsip ekowisata.

Kerapatan pohon mangrove di Bedul TNAP sebesar 1.507 individu/ha tergolong sangat baik. Sembilan burung air dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, salah satu diantaranya adalah Bangau Tong-tong (Leptotilos javanicus) yang sekaligus tergolong ke dalam kategori rentan berdasarkan IUCN Red List. Dua spesies fauna (Ratufa affinis and Varanus salvator) tergolong ke dalam Appendix 2 CITES. Potensi fisik seperti perahu tradisional, jembatan, rute, papan penanda dan papan interpretasi masih sangat perlu ditinggkatkan. Tradisi local berupa metode penangkapan ikan dan kerang secara tradisional berpotensi sebagai obyek ekowisata. Terkait dengan kegiatan wisata di Bedul TNAP, sebagian besar pengunjung menunjukkan perilaku tidak ramah lingkungan selama kunjungannya dan lebih memilih mengunjungi pantai dari pada menikmati mangrove sebagai objek utama. Responden pengunjung (n=40) tidak sanggup menghabiskan uang lebih dari Rp. 400.000,- untuk kelompok mereka. Dua puluh delapan persen responden penduduk local (n=46) mendapat keuntungan secara langsung dari pengembagan ekowisata di Bedul TNAP. Walaupun lebih besar penduduk local yang tidak mendapatkan keuntungan secara langsung, tetapi mereka setuju terhadap pengembangan ekowisata mangrove di Bedul TNAP. Pengelola belum memikirkan kunjungan maksimum dan alokasi dana konservasi yang didapat dari tiket masuk.

Evaluasi menunjukkan : (1) Potensi biologi ekowisata mangrove di Bedul TNAP dalam keadaan baik. Kegiatan penduduk local dalam memanfaatkan ekosistem mangrove secara tradisional memiliki potensi yang  untuk ekowisata. Akan tetapi, Potensi fisik khusunya fasilitas ekowisata perlu diperhatikan lagi. Fasilitas yang perlu diperbaiki antara lain perahu, darmaga, track menuju kawasan papan larangan dan papan petunjuk arah. Sementara fasilitas yang perlu segera diadakan antara lain jembatan dari kayu dan papan interpretasi, (2) pelaksanaan wisata di Bedul masih jauh dari prinsip-prinsip ekowista. Kegiatan ekowisata mangrove di TNAP di perkirakan dapat memberikan peluang keuntungan ekonomi bagi masyarakat local. Beberapa rekomendasi diantaranya : (1) Pengadaan dan perbaikan terhadap fasilitas ekowisata, (2) Pengembangan konsep ekowisata perlu menekankan proses edukasi dan penyadaran terhadap masyarakat dan pengunjung dan (3) Perlunya review terhadap zonasi.

 

 

Kata kunci : Evaluasi, Ekowisata Mangrove, Taman Nasional Alas Purwo



Mahasiswa Departemen KSDHE Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor


Kembali