Pestisida Nabati
 

Oleh: Ayu Arini Syauquk, S.Si. (Penyuluh Kehutanan)

Pestisida dari bahan alami telah sejak lama digunakan oleh masyarakat, termasuk masyarakat desa-desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo. Masyarakat memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitar lingkungannya untuk dimanfaatkan sebagai pestisida alami. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut perlahan menghilang akibat desakan kebutuhan dan teknologi yang tidak ramah lingkungan. Penggunaan pestisida kimia/sintetis dirasa lebih praktis dan ekonomis, namun dapat memberikan dampak negatif seperti residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tetapi juga pada air, tanah, bahkan udara. Akibatnya, hasil panen yang seharusnya berkualitas dan bernutrisi tinggi menjadi tercemar residu pestisida kimia dan berbahaya bila dikonsumsi. Penggunaan pestisida sintetis secara terus-menerus dapat mengakibatkan efek resistensi dan resurjensi atau timbul kembali dari beberapa jenis hama.

Pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan produksi metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme perusak tanaman. Pestisida nabati dapat berfungsi sebagai penolak, pemikat, antifertilitas (pemandul), atau pembunuh bergantung pada jenis tumbuhan yang digunakan. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan dari 235 Famili dilaporkan mengandung bahan pestisida. Tumbuhan penghasil pestisida nabati dapat dibagi menjadi lima kelompok, yaitu:

  1. Kelompok tumbuhan insektisida nabati, yang berfungsi sebagai pengendali hama serangga. Contoh: babadotan, bengkuang, saga, serai, sirsak, srikaya.
  2. Kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat, yang menghasilkan suatu bahan kimia yang menyerupai sex pheromon serangga betina yang akan menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Contoh: daun wangi dan selasih.
  3. Kelompok tumbuhan rodentisida nabati, yang berfungsi sebagai pengendali hama hewan pengerat (rodentia). Dua jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai rodentisida nabati adalah jenis gadung KB dan gadung racun.
  4. Kelompok tumbuhan moluskisida, yang berfungsi sebagai pengendali hama moluska/siput. Contoh: daun sembung, akar tuba dan tumbuhan patah tulang.
  5. Kelompok tumbuhan pestisida serba guna, merupakan kelompok tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, moluskisida, nematisida dan lainnya. Contoh tumbuhan dari keompok ini adalah: jambu mete, lada, mimba, mindi, tembakau dan cengkih.

Pestisida nabati yang digunakan oleh masyarakat desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo secara turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Seiring perkembangan zaman, informasi mengenai penggunaan pestisida nabati lebih banyak didapatkan dari petugas penyuluhan lapangan atau dari buku-buku pertanian.

Beberapa jenis tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai pestisida nabati oleh masyarakat desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo antara lain:

  1. Umbi Gadung ? Dioscorea hispida Desnnst

Masyarakat biasa menggunakan umbi gadung sebagai pestisida nabati terutama untuk hama pemakan daun dan biji tanaman. Umbi gadung mengandung senyawa dioskorin, diosgenin dan dioscin yang bersifat racun. Pestisida dari umbi gadung biasa digunakan untuk mengatasi hama apis, ulat, kutu daun, walang sangit, dan belalang. Untuk membuat pestisida dari umbi gadung, dapat dilakukan dengan cara parutan gadung direndam dalam air selama 12-24 jam, kemudian dicampur dengan rendaman tembakau lalu disaring. Ekstrak ini kemudian diencerkan dan dapat digunakan sebagai pestisida dengan cara disemprotkan.pesti gadung

  1. Akar Tuba ? Derris elliptica (Roxb.) Benth.

Tumbuhan yang umum digunakan sebagai racun ikan ini biasa disebut sebagai jenu/jenuh oleh masyarakat desa sekitar Taman Nasional Alas Purwo. Tumbuhan ini sudah mulai jarang ditemukan di sekitar desa, sehingga masyarakat mulai jarang menggunakannya. Bagian yang banyak digunakan adalah bagian akar dan batang. Pestisida dari tumbuhan akar tuba dibuat dengan cara memotong atau menumbuk bagian akar atau batang, kemudian direndam dalam air selama 7-15 hari. Air hasil saringan rendaman inilah yang kemudian digunakan sebagai pestisida dengan cara disemprotkan pada tanaman setelah sebelumnya dicampur dengan air. Akar tuba mengandung senyawa rotenon, dapat digunakan untuk mengendalikan hama serangga seperti larva kumbang dan kupu-kupu, apis, nyamuk, kutu hijau, dan kutu daun.

pesti tuba

  1. Lengkuas ? Alpinia galanga (L.) Sw.

Air perasan rimpang lengkuas ditambah belerang dan air secukupnya biasa digunakan oleh masyarakat desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo sebagai fungisida nabati pada tanaman melon dan kedelai. Lengkuas mengandung senyawa terpenoid, alkaloid dan fenol yang berperan sebagai fungisida dan bakterisida.pesti lengkuas

  1. Tembakau ? Nicotiana tabacum

Bahan aktif dalam tanaman tembakau yang berperan sebagai pestisida nabati adalah senyawa nikotin dan senyawa turunannya seperti alkaloid nikotin, sulfat nikotin dan senyawa nikotin lainnya. Masyarakat desa sekitar Taman Nasional Alas Purwo biasa mendapatkan tembakau dengan membelinya di pasar. Tembakau yang baik untuk dijadikan pestisida adalah yang masih setengah kering, namun masyarakat umumnya memanfaatkan tembakau yang sudah kering yang banyak tersedia di pasaran. Air rebusan atau rendaman tembakau dapat digunakan sebagai insektisida, fungisida dan akarisida. Umum digunakan untuk mengendalikan hama walang sangit dan ulat grayak.pesti tembakau

  1. Mimba ? Azadirachta indica Juss

Masyarakat desa sekitar Taman Nasional Alas Purwo biasa memanfaatkan daun mimba sebagai pestisida nabati. Daun mimba ditumbuk bersama bahan lain seperti daun mindi, tembakau atau daun sirsak kemudian direndam dalam air selama beberapa hari. Air hasil saringan itulah yang digunakan sebagai pestisida alami. Mimba mengandung senyawa bioaktif seperti azadirachtin, salanin, meliatriol, dan nimbin. Pestisida dari daun mimba biasa diplikasikan untuk mengatasi hama ulat grayak, kutu daun, ulat jengkal, apis, dll.

pesti mimba

  1. Sirsak ? Annona muricata

Selain lezat buahnya, daun sirsak telah lama dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengatasi hama tanaman seperti ulat grayak. Sama seperti pembuatan pestisida nabati lainnya, untuk meramu pestisida dari daun sirsak ini, daun dihaluskan dan rendam selama beberapa hari. Air saringannya digunakan sebagai pembasmi hama belalang, ulat dll. Bahan aktif dalam daun sirsak antara lain senyawa annonain, acetoginin dan tannin sehingga pestisida dari daun sirsak dapat berfungsi sebagai insektsida, larvasida, repellent dan antifeedant.

pesti sirsak

Selain keenam jenis tumbuhan tersebut, masih ada bebrapa jenis tumbuhan lain yang biasa digunakan oleh masyarakat desa sekitar Taman Nasional Alas Purwo sebagai pestisida alami seperti daun Mindi (Melia azedarach), serbuk kayu Mahoni (Swietenia mahagonii) serta kayu Trembesi (Samanea saman).

 

 

Sumber:

Anonim. 2013. Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati Dibagi Menjadi Lima Kelompok. http://www.slideshare.net/antoriza/tumbuhan-penghasil-pestisida-nabati-diba gi-menjadi-lima-kelompok diakses pada 29 Mei 2015.

Indrayanti, Ida. 2012. Mengenal Tanaman Bahan Pestisida Nabati. http://www.slideshare.net/wika_wibowo/mengenal-tanaman-bahan-pestisida-nabati diakses pada 29 Mei 2015.

Lubaba, Nur Kasiyah. 2014. Skripsi: Kajian Etnobotani Pestisida Nabati oleh Masyarakat Desa Penyangga Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember.

R., Widya Saraswati. 2012. Manfaat Bawang Merah Sebagai Pembuat Pestisida Alami. http://www.slideshare.net/windipeace/manfaat-bawang-merah-sebagai -pembuat-peptisida-alami diakses pada 29 Mei 2015.

Sarjoko. 2013. Manfaat Tanaman Sebagai Pestisida Nabati. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Ambon. http://ditjenbun.pertanian.go.id/ bbpptpambon/berita-185-manfaat-tanaman-sebagai-pestisida-nabati-.html diakses pada 29 Mei 2015.


Kembali