Petik Laut di teluk pang-pang dan Astana Gandrung TN. Alas Purwo
 

Sedekah laut atau lebih dikenal petik laut merupakan kegiatan yang digelar pada pertengahan suro (15 Muharam)  tepatnya di Muncar, Banyuwangi. Petik Laut merupakan wujud rasa syukur para nelayan atas rejeki yang telah didapatkan dari laut, sekaligus ritual tolak bala. Memohon keselamatan agar terhindar dari bahaya saat berlayar mengarungi lautan.

Upacara ritual sedekah laut ditandai dengan kirab gitik sesaji, melarung sesaji ke tengah laut, dilanjutkan dengan ritual di makam Gandrung yang terletak di Semenanjung Sembulungan, Taman Nasional (TN) Alas Purwo.

Gitik adalah sebuah perahu kecil sepanjang sekitar lima meter yang digunakan untuk membawa ubo rampe (material) sesaji yang akan dilarung.

Mendekati H-3 upacara ritual, gitik mulai diisi sesaji lengkap dengan ubo rampe dan tak lupa  kepala kambing dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup. Satu hari sebelum sesaji dilarung, dilakukan upacara ider bumi atau  putar bumi dengan sesaji tersebut dibawa keliling Muncar dari pagi hingga sore. Sebelum dilarung ke laut, warga sekitar melakukan ruwatan atau tirakatan dengan mengadakan doa bersama.

Sementara ritual mulai dilakukan di desa, persiapan juga dilakukan oleh TN Alas Purwo yang menjadi salah satu tempat rangkaian Petik laut. Adapun persiapan yang dilakukan oleh Taman Nasional Alas Purwo dalam mendukung acara tersebut adalah dengan mengecat area makam gandrung, pemasangan banner dan umbul – umbul, pembersihan wilayah resort serta menyediakan tempat sampah. Ini dirasa perlu karena pengunjung berasal dari berbagai daerah serta masyarakat sekitar Muncar Banyuwangi.

Pada pagi hari menjelang puncak perayaan, TN Alas Purwo melakukan pengamanan dengan melaksanakan patroli. Patroli udara menggunakan pesawat trike yang lepas landas dari Airstrip Jatipapak, memantau area Sembulungan dan Muncar. Selain patroli udara, TN Alas Purwo juga melakukan patroli darat dan perairan.

Demi menjaga stabilitas keamanan dan kelancaraan acara Petik Laut, TN Alas Purwo mengerahkan personil baik Polisi Kehutanan (Polhut), Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Tenaga Pengaman Hutan Lainnya (TPHL) serta didukung oleh TNI AL.

Puncak acara dimulai dari pelabuhan Muncar dimana gitik berisi sesaji dibawa ke perairan untuk dilarung. Beberapa nelayan bergegas menceburkan diri ke laut berebut mendapatkan sesaji. Sesekali mereka juga terlihat menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. Nelayan percaya bahwa air menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti. Ritual dilanjutkan menuju Sembulungan. Tiga penari gandrung dan penabuh gamelan tiba di pantai Sembulungan menggunakan kapal, selanjutnya menuju makam gandrung. Penari berdoa kemudian menari mengelilingi makam diiringi tabuhan gamelan.

Rangkain acara Petik Laut berakhir seiring dengan berhentinya tabuhan gamelan dan tarian. Sebelum meninggalkan area makam, rombongan sekali lagi melakukan doa bersama.

Rangkaian acara berakhir sekitar tengah hari. Masyarakat yang datang menyaksikan rangkaian acara mulai kembali ke rumah masing-masing seiring dengan mulai surutnya air laut. Personil TN Alas Purwo kemudian melakukan aksi bersih mengumpulan sampah bersama beberapa relawan di area makam dan sekitar pantai.

Selain Muncar, petik Laut juga dilakukan oleh masyarakat Grajagan di Segara Anak, Resort Grajagan, namun dengan skala yang lebih kecil.

photo kegiatan


Kembali