STUDI DAYA DUKUNG PADANG PENGGEMBALAAN SADENGAN

DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO JAWA TIMUR

(1992)

 

Oleh : Doddy herika Wiyastono*

Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah satu kawasan konservasi di Indonesia sebagai perwakilan tipe hutan hujan tropis berdataran rendah untuk habitat satwa liar yang telah dilindungi maupun yang belum dilindungi, antara lain banteng (Bos javanicus d’Alton) dan rusa jawa (Cervus timorensis de Blainville).

Pengelolaan satwa liar dalam kawasan konservasi tidak terlepas dari pembinaan habitat. Dari segi kualitas habitat, makanan merupakan salah satu faktor pembatas bagi perkembangbiakan satwa liar.

Banteng dan rusa merupakan satwa liar herbivora yang digolongkan sebagai pemakan rumput (grasser), sehingga keberadaan padang penggembalaan Sadengan sebagai sumber makanan dan pusat aktivitas satwa sangat menetukan kelestarian populasi satwa ini. Kualitas padang penggembalaan harus dapat dipertahankan agar populasi satwa yang ada dapat hidup secara normal dan terus menerus. Untuk itu perlu diketahui daya dukung suatu padang penggembalaan terutama dari segi kuantitas maupun kualitas hijauan makanan satwa.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya dukung padang penggembalaan Sadengan terhadap kehidupan satwa liar banteng dan rusa jawa secara optimal dari segi kuantitas hijauan yang tersedia pada musim hujan.

Untuk memperoleh nilai daya dukung suatu padang penggembalaan dilakukan pengukuran produktivitas rumput pada petak-petak contoh dan perhitungan satwa banteng dan rusa dengan metode terkonsentrasi (consentration count method). Untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi padang penggembalaan dilakukan analisis vegetasi dengan metode sistematic random sampling. Selain itu juga dilakukan pengamatan jenis-jenis tumbuhan yang dimakan banteng dan tingkat kesukaannya.

Produktivitas rumput padang penggembalaan Sadengan pada musim hujan tahun 1992 sebesar 87,45 kg/ha/hari sehingga padang penggembalaan ini mampu mendukung jumlah satwa secara optimal sebanyak 237 unit satwa. Bila dibandingkan dengan jumlah banteng dan rusa pada saat penelitian yaitu sebanyak 260,61 unit satwa maka padang penggembalaan Sadengan sudah tidak mampu memenuhi hijauan (rumput) makanan kedua jenis satwa ini secara normal.

Padang penggembalaan Sadengan didominasi rumput lamuran (Arundinela setosa) dan teki sriwet (Frimbistylis annua) sehingga keberadaan kedua jenis ini sebagai jenis utama makanan banteng dan rusa masih dapat dipertahankan. Dari 45 jenis tumbuhan yang ditemukan, 21 jenis dimakan banteng.

Aktivitas penggembalaan yang melebihi daya dukung optimal, persaingan jenis rumput dengan jenis-jenis lainnya yang kurang menguntungkan serta proses invasi vegetasi hutan alam ke arah padang penggembalaan diduga mempengaruhi produktivitas rumput areal ini. Oleh karena itu perlu dilakuakn perbaikan kualitas padang penggembalaan melalui upaya peningkatan produktivitas rumput agar kelestarian populasi dan padang penggembalaan dapat tercapai.



Mahasiswa Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Malang


Kembali