Wahyu Tri Wasono
 

POPULASI DAN HABITAT MERAK HIJAU (Pavo muticus Linnaeus, 1766) DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO JAWA TIMUR

(2004)

 

Oleh : Wahyu Tri Wasono

Data dan informasi mengenai populasi dan habitat Merak Hijau di Taman Nasional Alas Purwo masih perlu diperbarui. Padahal data dan informasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan sangat membantu dalam mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan agar Merak Hijau dapat lestari. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tentang populasi Merak Hijau (kelimpahan, kepadatan, struktur umur dan seks rasio) pada masing-masing tipe habitatnya serta mengetahui kondisi dan karakteristik komponen penyusun habitatnya di Taman Nasional Alas Purwo.

Metode pengamatan habitat untuk profil vegetasi dilakukan dengan analisis vegetasi menggunakan metode garis berpetak (hutan tanaman dan hutan alam) dan metode petak tunggal (padang penggembalaan Sadengan), sementara pengamatan terhadap karakteristik habitat Merak Hijau dilakukan dengan pengamatan langsung di tempat tidur, tempat makan, tempat minum, tempat bertengger, berteduh dan berlindung, tempat menari, tempat kawin dan bentuk gangguan terhadap Merak Hijau. Metode pengamatan populasi di hutan tanaman dan hutan alam menggunakan metode jalur (transek) masing-masing 2 jalur sementara di padang penggembalaan Sadengan menggunakan metode konsentrasi dengan ulangan 10 kali. Data yang diukur adalah jumlah, jenis kelamin, kelas umur, dan waktu perjumpaan. Analisis data meliputi analisis pola penyebaran, analisis tingkat penggunaan habitat, analisis karakteristik fungsi habitat dan analisis tingkat preferensi terhadap suatu habitat.

Berdasarkan hasil pengamatan populasi bulan Agustus dan September 2004, Merak Hijau ditemukan dan tersebar di padang penggembalaan Sadengan dengan kelimpahan rata-rata 31 ekor, di hutan tanaman-areal tumpangsari dengan kelimpahan rata-rata 17 ekor dan di hutan alam-areal tumpangsari dengan kelimpahan rata-rata 1,6 ekor. Hasil analisis pola penyebaran menunjukkan pola penyebaran Merak Hijau mengelompok. Kepadatan tertinggi pada tipe habitat hutan tanaman-areal tumpangsari sebesar 94 ekor/km2 sementara kepadatan terendah pada tipe habitat hutan alam-areal tumpangsari sebesar 9 ekor/km2. struktur umur didominasi oleh kelas umur dewasa disemua tipe habitat, sementara kelas umur anak tidak ditemukan pada berbagai tipe habitat pengamatan. Angka seks rasio yang mendekati ideal adalah di hutan tanaman areal tumpangsari yaitu 1 : 3,9. Gangguan yang dialami Merak Hijau antara lain pengusiran, jebakan, pestisida dan penebangan liar.

Karakteristik pohon tidur antara lain dekat dengan tempat terbuka, percabangan mendatar, dan tajuk tidak terlalu rapat. Bagian vegetasi yang dimakan Merak Hijau adalah daun, biji, bunga dan buah. selain itu Merak Hijau juga makan serangga seperti semut, rayap, belalang dan jangkrik. Kondisi tempat minum Merak Hijau, airnya sudah ada yang berkurang yaitu di hutan tanaman-areal tumpangsari. Karakteristik tempat bertengger, berteduh dan berlindung adalah pohon dengan tajuk seperti payung yang tidak terlalu rapat, percabangan mendatar namun tidak terlalu tinggi. Tempat menari adalah di tempat terbuka dan lebih tinggi. Tempat mandi debu pada tanah dengan kondisi debu halus dan kering. Tempat kawin Merak Hijau ditempat yang datar, bersih dan aman.

Berdasarkan hasil analisis tingkat penggunaan habitat di padang penggembalan Sadengan, aktifitas paring lama adalah makan. Analisis preferensi habitat menggunakan uji chi square (X2) menunjukkan bahwa padang penggembalaan Sadengan memiliki preferensi tertinggi.



Mahasiswa Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor


Kembali