Bangun Wildlife Research Station, Upaya Alas Purwo Wujudkan Pengelolaan Kawasan Berbasis Riset

G-Land, TN Alas Purwo, Rabu-Jumat, 28-30 November 2018. Sebagai upaya untuk mewujudkan pengelolaan kawasan berbasis riset melalui pembangunan Wildlife Research Station (WRS), Balai TN Alas Purwo (TNAP) menjaring masukan dari para peneliti dan pengelola keanekaragaman hayati (kehati), yang dikemas dalam bentuk workshop bertajuk “Pengembangan WRS Taman Nasional Alas Purwo”. Pengelolaan kawasan berbasis riset ini merupakan salah satu dari 10 cara baru kelola kawasan konservasi yang dipopulerkan oleh Dirjen KSDAE, Bapak Wiratno.

Hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), LIPI, IPB, UGM, UNHAS, UNEJ, UNTAG Banyuwangi, UNIBRAW, Conservation International-Indonesia, Save Indonesian Nature and Threatened Species (SINTAS) Indonesia Foundation, Forum Macan Tutul Jawa, Copenhagen Zoo Southeast Asian Program, IUCN, BBPPBPTH Yogyakarta, Biro Kerjasama Luar Negeri KLHK, Dinas Kehutanan Prov Jatim, Dinas Pendidikan Kab Banyuwangi, KPH Banyuwangi Selatan-Perhutani, dan UPT KSDAE se-Jawa Bali.

Acara dibuka oleh Kepala Balai TNAP Bapak Nuryadi pada Rabu malam, 28 November 2018 di Joyo’s Surf Camp, Plengkung-Banyuwangi. Dalam sambutannya, Kepala Balai TNAP menyampaikan bahwa acara ini menjadi ajang silaturahmi pertama antara para peneliti dengan pengelola Alas Purwo. Beliau pun menyampaikan harapannya agar tali silaturahmi yang telah terbangun tidak berhenti di acara ini saja, tetapi harus ada tindak lanjutnya, sehingga pengembangan WRS di Alas Purwo dapat optimal.

Sebelum acara pemaparan dan diskusi, Panitia menjadwalkan field trip di pagi sampai siang hari pada hari ke-2, sebagai masukan bagi peserta dalam diskusi. Field trip dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu: Unit Pengelolaan Penyu Semi Alami (PPSA) Ngagelan, Feeding Ground Sadengan, dan Airstrip Jatipapak sebagai tempat landasan terbang pesawat trike. Selain itu, Alas Purwo juga menggelar pameran produk-produk hasil pemberdayaan masyarakat dari beberapa kelompok binaan, yaitu: Kelompok Merpati-Desa Wringiputih, Kelompok Hasta Karya Mandiri-Desa Kedungasri, Kelompok Purwo Kreatif-Desa Kalipait, dan Kelompok Sinar Harapan-Desa Sumberasri.

Workshop dipandu oleh Dr. Nyoto Santoso (IPB),) dan Wahyudi (Copenhagen Zoo Southeast Asian Program) serta menghadirkan narasumber Dr. Moh. Haryono (KaSubdit Sumberdaya Genetik Direktorat KKH – Kebijakan Pengelolaan sumber daya hayati untuk mendukung Pengembangan Ilmu Pengetahuan), Nuryadi, S.Hut, MP. (Kepala Balai TNAP – Perkembangan dan Potensi Penelitian Hiduan Liar di TNAP), Tri Haryono, M.Si. (LIPI – Pengembangan Monitoring Site Hidupan Liar di Kawasan Konservasi), Dr. Satyawan Pudyatmoko (UGM – Ragam Pengelolaan WRS yang Mungkin Dikembangkan dan Pengembangan WRS di TNAP), Hariyo T Wibisono dan Irene Margaret (SINTAS – Pendugaan Populasi Macan Tutul). Acara workshop ini berlangsung cukup dinamis dimana banyak ide-pemikiran dan masukan dari peserta untuk mewujudkan pengembangan WRS di TNAP.

Berdasarkan uraian Dr. Satyawan, WRS TNAP setidaknya memiliki 4 fungsi sebagai berikut:

  1. Memberikan dukungan fasilitas dan infrastruktur berkualitas kepada peneliti, mahasiswa, dan pemerhati satwa liar untuk penelitian dan mengembangkan inovasi pengelolaan satwa liar;
  2. Menjadi sumber informasi ilmiah dan populer, pusat data penelitian untuk pemantauan dan evaluasi keberhasilan konservasi, bahan pengambilan keputusan, penyusunan program konservasi, menampilkan keunikan-keunikan dan sejarah alam satwa TNAP;
  3. menjadi penghubung para peneliti satwa liar untuk berkomunikasi dan bekerjasama yang sinergis; dan
  4. Menyediakan fasilitas dan program edukasi konservasi satwa liar dan pelatihan kepada masyarakat, pemuda, dan siswa-siswa sekolah.

Di ujung acara workshop pengembangan WRS TNAP, dihasilkan sebuah rekomendasi yang sangat berharga untuk ditindaklanjuti, yaitu:

  1. Pembentukan tim khusus terkait pengembangan WRS TNAP;
  2. Penyusunan roadmap; dan
  3. Pembangunan sistem database

Semoga impian membangun dan mengembangkan WRS serta pengelolaan kawasan berbasis riset TNAP akan segera terwujud dan menjadi model bagi pengelolaan TN di Tanah Air.

#KLHK#Program kerja#Bikin Indonesia Maju

Penulis: Vera Tisnawati

Share this post