Berburu Kerang di Perairan Segoro Anak Taman Nasional Alas Purwo

Pagi ini cuaca cerah. Kami bergegas berangkat menuju kawasan ekowisata Bedul tepat pukul 07.00 WIB dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan menuju Bedul dari kota Banyuwangi cukup ramai, tetapi waktu tempuh kami terbilang singkat, dalam waktu 1,5 jam saja kami sudah berada di Bedul. Padahal, biasanya bila menggunakan mobil, kami baru bisa sampai Bedul sekitar pukul 09.30 WIB.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan berupa hamparan sawah dan kesibukan masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya di pagi hari. Mendekati lokasi, pemandangan yang disuguhkan semakin beragam, mulai dari hutan jati, kebun jeruk, kebun buah naga, dan suasana khas pedesaan. Pemandangan tersebut membuat perjalanan kami menjadi sangat menyenangkan, terkadang kami sengaja berhenti, hanya untuk menghirup segarnya udara pagi sambil mengambil beberapa gambar menggunakan kamera hp atau kamera DSLR.

Sesampainya di Bedul, kami disambut oleh Kepala Resort Grajagan, Pak Purwanto dan pengemudi jukung, Pak Songeb. Beberapa hari sebelumnya kami memang sudah menyampaikan maksud kedatangan kami kepada Pak Purwanto, yaitu untuk mendokumentasikan aktivitas masyarakat sekitar saat mencari kerang. Tak lama setelah berbincang-bincang ringan mengenai kondisi kawasan di sepanjang Sungai Segoro Anak, kami pun melangkahkan kaki kami menuju dermaga untuk menaiki jukung. Saat itu waktu menunjukan pukul 10.15 WIB. Matahari bersinar sangat terik dan angin berhembus cukup kencang. Kami pun mulai merapatkan pakaian kami di tubuh dan menggunakan topi serta tidak lupa menyiapkan kamera.

Awalnya, kami sempat ragu-ragu saat melangkahkan kaki kami masuk ke dalam jukung. kami khawatir perahu kecil tanpa penutup itu akan menjatuhkan kami ke sungai yang dalamnya lebih dari 3 meter. Bayangkan saja, perahu sekecil itu ditempati oleh 5 orang. Sepanjang perjalanan, sebisa mungkin kami tidak membuat banyak gerakan yang dapat mempengaruhi keseimbangan perahu. Alhasil kaki kami sempat beberapa kali kesemutan dan tidak satu pun dari kami yang berani mengambil gambar atau merekam video dengan posisi berdiri.

Kami mulai merekam keindahan mangrove di sisi kiri dan kanan sungai. Kemudian dilanjutkan dengan merekam pergerakan ikan-ikan berukuran kecil yang berhamburan melompat di udara di sepanjang perjalanan kami menuju ke tempat masyarakat yang sedang mengambil kerang dengan cara menyelam. Sungguh menyenangkan melihat segerombolan ikan-ikan tersebut. Salah satu anggota kami menamakan hal tersebut dengan istilah “ikan terbang”.

Akhirnya kami melihat ada 3 kelompok nelayan yang sedang mencari kerang. Kami memutuskan untuk merekam dan mengambil gambar kelompok nelayan yang paling dekat dengan pinggiran sungai. Harapannya, gambar yang nantinya kami dapat tidak terlalu terang karena saat itu matahari benar-benar sedang terik.

Tidak semua orang bisa mengambil kerang dengan cara menyelam. Butuh keterampilan untuk bisa menahan napas cukup lama di dalam air dengan rata-rata kedalaman 3 meter. Saat mengeruk lumpur/pasir dengan menggunakan ayakan yang dimodifikasi, butuh kehati-hatian agar lumpur/pasir tersebut tidak masuk ke dalam mata atau hidung. Setelah berhasil mengeruk, hasil kerukan diayak di atas permukaan air agar lumpur/pasir jatuh ke dalam air dan hanya menyisakan kerang di dalam ayakan. Selanjutnya kerang-kerang tersebut dikumpulkan di dalam sebuah box berbahan styrofoam atau tong plastik untuk kemudian dipindahkan ke dalam jukung.

Setelah puas merekam momen pengambilan kerang dengan cara menyelam, kami pun melongok ke kumpulan kerang yang ada di dalam jukung dan membeli beberapa untuk dibawa pulang. Beragam jenis kerang berhasil dikumpulkan, mulai dari kerang dara (Anadara granosa), kerang bulu (Anadara antiquata), kerang pecok (Atrina pectinata), kerang petelot (Solen vaginalis), kerang hijau (Perna viridis), kerang batik (Venerupis philippinarum), kerang cemeti (Paphia undulata) dan kerang manis. Namun yang mendominasi hanyalah jenis kerang dara, kerang bulu dan kerang manis.

Pengambilan kerang di perairan Segoro Anak tidak hanya dilakukan dengan menyelam. Pada saat air sungai surut, muncullah daratan ke permukaan, dan masyarakat mengambil kerang di daratan tersebut dengan membawa pacul atau alat lainnya yang berfungsi untuk mencongkel atau membalikkan tanah.

Saat jukung kami merapat ke daratan untuk mendokumentasikan kegiatan masyarakat yang sedang mengambil kerang, kami melihat pemandangan yang tak pernah kami lihat, yaitu ribuan kepiting kecil merah sedang berpindah tempat. Pergerakannya meninggalkan jejak yang unik dan bentuk badan kepitingnya bulat tidak pipih seperti lazimnya seekor kepiting. Sangat menarik dan mengagumkan.

Di daratan yang muncul ini masyarakat hanya mengumpulkan jenis kerang miren, sedangkan kami saat itu tidak hanya mengumpulkan kerang miren, tetapi juga berbagai jenis tiram, kerang capar, dan kerang lepek. Sangat menyenangkan berburu berbagai jenis kerang dan tiram. Ada ciri tertentu yang menandakan keberadaan berbagai jenis kerang tersebut di dalam lumpur/pasir. Wawasan dan pengalaman kami pun bertambah. Apalagi setelah kami menikmati sajian kerang yang kami peroleh, yang langsung diolah oleh pedagang di warung makan Bedul, hmm..sungguh enak. Memakan kerang yang masih segar terasa manis di lidah, walaupun hanya dengan bumbu sayur bening.

Tertarik untuk berburu dan mencicipi kerang segar, ayo datanglah ke ekowisata Bedul. Tetapi jangan sampai meninggalkan sampah ya sahabat konservasi dan jangan lupa dukung terus kelestarian kawasan Taman Nasional Alas Purwo untuk keberlangsungan generasi mendatang.

Penulis: Vera Tisnawati – Staf Balai TN Alas Purwo
Fotografer: Gendut Haryanto dan Achmad Maulana – Staf Balai TN Alas Purwo

Share this post